Tentang Kenangan

Cinta yang tak pernah rapuh, kan tersembunyi menyatu

Hampir lamanya aku malas membicarakan kata "cinta"
Mungkin hampir setahun, paska aku di wisuda
Tiba-tiba rasaku tak ubahnya seperti dulu, kambuh tuk aras-arasan mengetuk rasa itu
Karena, aku masih takut mencintai
Karena, aku khawatir membuat orang lain kecewa, sakit hati
atau bahkan dikecewakan dan tersakiti
Sungguh, dari dulu aku enggan mengenal kata "cinta"

Hingga akhirnya...
Diriku terperanjat tak karuan
Kala cinta datang menyapaku
Ku sambut saja dengan suka hati
Tanpa peduli apa kata orang
Aku hanya mengikuti apa kata hatiku
Karena selamanya hati selalu berkata Jujur

Entah aku tak pernah menghitung,
Berapa kali aku menerima kata manis, kata sanjungan, kata ungkapan sayang
Dari mereka, yang pernah menemani masa-masa indah bersamaku
Dengan merajut tali hubungan dalam ikatan pacar, tunangan atau status lainnya
Yang jelas aku merasa bahagia, ada yang sempat membuat ku tertawa
Yang jelas aku merasa gumirah, ada yang sempat memberi ku pelajaran bermakna
Yang jelas aku merasa bersyukur, sempat ada hadirmu dalam kisah hidupku

Meski kadang ada air mata, karena benci, amarah, kecewa, dan sakit hati
Tak henti menghiasi
Aku tetap merasa bersyukur
Meski tuturku berkata luka, tapi hati ini selalu tersenyum
Karena hati terlalu mulia tuk membiarkannya tersayat

Biarkan kau anggap diriku semau yang kau sebut
Sekiranya itu bisa buatmu lega
Biarkan kau tak pedulikan aku lagi
Karena begitulah adanya, jika itu memang pantas tuk ku

Aku tak tahu...
Sudahkah kita bisa saling memaafkan dengan tulus??
Aku tak tahu
Sudahkah kita bisa saling mengikhlaskan dengan tulus??

dan semoga kita sudah berusaha tegar menjalani ini

Karena yang aku tahu...
Aku hanya bisa ucapin terima kasih
Atas kisah hidup yang pernah kita rangkai dalam bingkai kisah
Yang telah membuat orang lain selalu ingat akan kisah kita
Karena terlalu banyak orang lain turut campur, mewarnai kisah kita

Kini...
Aku dan kehidupanku
Kau dan kehidupanmu

Tapi, aku akan selalu merekam semua itu
Karena terlalu manis tuk dilupakan
Tentang kisah yang terlewati dengan indah
Tentang aku dan kenangan

Terima kasih, karena telah menjadi bagian dari cerita hidupku....
Ya Robb, Jagalah dia dengan Rahman-Mu selalu. Amiin.


Last My notes about memories
            * Ida_Zha*

Hmm,,,
Cinta, kau selalu beri kekuatan tuk kita
Kelak aku akan bisa denganmu...

Just Missing

Assalamualaikum, Wr. Wb

Lama aku tak bersua denganmu wahai penaku...
padahal banyak sekali cerita" yang ingin kukisahkan

Setahun sudah terlewati
Menggembalakan pikiran, perasaan dan jiwa
Yang saat itu tengah kosong, berkecamuk tak tentu
Yah, aku telah lalui kesendirian itu dengan sgala asa
Yang ku rasa itu nikmat dan indah

Parade hidup mulai berjalan mengiringi langkahku
Tersadar, ada yang datang dan pergi
Ada teman, pernah bersama merangkai warna hidup dengan hiasi pelangi
Tapi, itulah pelangi,,,selalu memudar pelan-pelan
Kala reda sudah mengering
Lalu, berganti hadir di lain hari dengan elok berbeda
Ada kekasih, pernah singgah melengkapi hari-hari dengan denting asmara
Tapi, itulah cinta,,,tak pernah tahu, kapan terakhir berlabuh
dan derapku ternyata. . . . . . .
Meski mereka yang pernah dekat datang dan pergi
Namun, hanya kata sejati yang akan tersemat dihati


B'day me

Telah datang lagi masaku,,,
Ada dua rasa menghimpitku
Bahagia, aku masih bisa belajar bijak menyikapi hidup
Sedih, masih ada beban dan tanggung jawab yang akan kujalani
Karena, aku telah berjanji
Sepenuhnya nafasku hanya mengabdi pada-Nya
Dengan persembahan sisa usia dan segenap raga
Memberi manfaat kepada mereka
Mendampingi mereka yang tertatih
Dengan bekal titipan Tuhan yang terpercaya...

Karena kini aku mengerti...
Kita bisa meraih sesuatu
Bukan karena cita-cita
Melainkan karena kita "Yakin"

Terima kasih ya Allah...
Nikmat dan karunia-Mu sungguh Maha Luar Biasa

Sweet day
Rabu, 01 Juni 2011

Relung yang Berkata



Assalamualaikum...

(a)
Apa kabarnya cinta?
Semoga kau selalu terjaga dalam selimut rahmat-Nya
Meski aku tak tahu ada dimana kamu berada

(b)
Apa kabarnya cinta?
Aku sangat mengagumimu
Walau kisah yang kau torehkan kadang penuh luka dan suka

(c)
Apa kabarnya cinta?
Aku sangat merindukanmu
Tapi dayaku tak mampu merengkuhmu
Sebelum kau benar'' berjanji setia dan tulus

(d)
Apa kabarnya cinta?
Ada sesuatu yang akan ku ungkapkan kepadamu
Kata ini buat kamu "Terima kasih"
Kau mau menerima kelemahanku, kekuranganku

(e)
Apa kabarnya cinta?
Semoga kau kelak mendengar pesanku ini
Apapun yang menimpa
Percayalah, kita dipertemukan dan dipisahkan karena Tuhanku
Bukan karena benci, dendam, sakit hati dan amarah
Jika itu terjadi...
Betapa resahnya aku?

(f)
Apa kabarnya cinta?
Memang saat ini aku belum menemuimu
Lantaran jarak yang berliku tengah menguji kita
Agar kita lolos tuk bersabar

(g)
Apa kabarnya cinta?
Tahukah kau? aku masih sendiri dengan tegarku
Biarlah mereka duluan mereguk manisnya asmara
Dan aku... tak apalah...
Aku tetap tersenyum
Aku menikmatinya kok

(h)
Apa kabarnya cinta?
Ku disini
Kan selalu mendoakan kamu
Cinta yang suci nan abadi...


Wassalamualaikum
Salam cintaku

Lega




Lega...
itulah perasaan yang tergambar saat ini
Saat ranjau-ranjau itu mulai terlihat...
Meski tak pernah diketahui, bahwa kamu pandai menyimpannya dariku selama ini

Lega...
biar kau mencercau seenaknya
tanpa peduli pengaruh dan respon dari ujarku
Meski tak pernah diketahu, bahwa kamu dibelakang tengah bermain api

Lega...
Semuanya telah jelas
Ada maksud busuk yang kau sebarkan di halamanku
Meski tak sadar, bahwa kamu memang tak punya hati yang penuh kasih

Lega...
Aku tak akan lagi menangisi dirimu dan buaianmu yang palsu
Biar sempat ada kata 'cinta', tapi itu semua terhempas
Kala kau menebar cerita belaka yang tak pernah terjadi kepada mereka

Lega, sungguh aku lega...

Catatan Di penghujung Tahun

Catatan Di penghujung Tahun


Ini adalah cerita dari gadis yang berinisial “aku”, penulis akan memaparkan menurut cerita dari “aku”
Senin, 29 Dzuhijjah 1431 H.
Seusai lulus kuliah, aku di minta mengajar di sekolah dasar negeri kelas 2, berstatus sebagai guru kelas, jadi konsekuen harus menguasai seluruh mata pelajaran. Kecuali study agama dan English, ada guru khusus yang menghandle. Siang itu jam 12, dengan mengenakan seragam abu-abu, aku pulang mengajar. Sesampai di rumah, aku bersalaman dengan bunda, kucium tangan kanan itu penuh takdzim. Aku mengeluarkan jajanan yang kudapat dari wali murid “gethuk jowo”. Bentuknya panjang dan terbungkus daun pisang, lalu kedua ujung ditusuk dengan biting, berfungsi merapatkan isi gethuk, agar saat dikukus, bentuknya tidak berubah. Berbahan dasar dari singkong yang dihaluskan, bercampur dengan rangkaian pelengkap bahan dan penyedap rasa lainnya. Kresek merah yang berisi empat gethuk kuserahkan kepada bunda. Sambil saling membuka satu biji, kami berdua melahap kenyalnya makanan ringan yang terbuat dari bahan dasar tepung singkong.  Warna kuning dan rasa manis legitnya sungguh menggiurkan lidah.
“Bing, besok ikut ayah ke Madura ya?” ungkap bunda.  Jarak dudukku bersebelahan dengan beliau, ku toleh tak mengerti.
“Paman Ansorinya nyuruh ke Madura, kamu mau disyaratin sama kyainya,”
Aku mendesah. Ternyata pikiran itu masih belum hilang dari ayah dan bunda.
“Emang aku mau diapain lagi?” tanyaku rada setengah ketus.
“Iya cuman disyaratin saja, katanya sang kyai sudah tirakatin kamu dengan puasa 41 hari, jadi besok kamu mau dikasih sesuatu”
Hah, puasa 41 hari. Gak salah tuh!!! Pikirku nakal.
“Bunda masih percaya kalo aku digituin sama Riko?” tanyaku.
“Yah takut saja, kalau kamu masih dikancing sama mantan tunanganmu dulu,” 
Astaghfirullah…
“Bunda,” kutatap kedua mata yang sangat kuhormati itu.
“Kalau bunda mau percaya, aku sebenarrnya baik-baik saja, tanpa harus memikirkan hal-hal buruk akan menimpaku,” perlahan ku beri pengertian kepada bunda, agar tak terlalu merisaukan keadaanku.
“Siapa yang tahu nak kelakoane wong lanang, punya rasa dendam dengan kita, trus kamu diapa-apain,”
“Tapi ini sudah lama bunda, masa’ harus dikait-kaitkan lagi dengan dia?”
“Dulu budemu juga digituin bing, sama mantan suaminya aura bibimu di tutup, pas setelah disyaratin, budemu akhirnya bisa menikah lagi,”
“Tapi sekarang ceritanya lain kan bunda, aku gak sama dengan bude,” belaku.
“Sudahlah, pokoknya besok kamu ikut ayah ke Madura, cuman sebentar saja, habis gitu langsung balik,” nada suara bunda sudah tak bisa kusahut lagi. sulit banget mengelak, apalagi beliau memang berwatak keras. Jadi aku memilih diam, percuma beragumen membela diri, nanti dikira membantah. 
Duh gusti, aku tak tahu apa yang harus kulakukan, untuk meyakinkan kedua orang tuaku. Terutama pada bunda. Pasca saudara sepupuku yang seumuran, semuanya pada laris manis dipinang orang. ditambah, berdekatan bulan-bulan kemarin, anaknya bi Salwah adik dari bunda yang berusia 17 tahun bernama “Nur” dilamar orang. alamak, lengkap sudahlah kekhawatiran bundaku. Sebab, gadis 22 tahun sepertiku. Pastinya akan menjadi buah bibir di kalangan masyarakat di sekitarku. Karena 22 tahun dirasa sudah pantas, dinilai cukup umur untuk membina rumah tangga. Hm, Siti Nurbaya era globalisasi yang masih mengakar.
Apalagi ditambah dengan kondisi negeri yang serba dilanda duka akibat bencana. Terkadang bisa menjadi sindiran yang menohok, seakan berkelakar sembari memancing umpan milik orang lain.
“Gunung merapi wis meletus loh yo, ndang nggolek,” tutur mbak Tarni. Perempuan dua anak ini, yang tinggal bersebelahan dengan rumah, selalu mengerecokiku.
“Tenang ae mbak, gunung semeru sek durung kok,” balasku tak mau kehilangan ide. Astaghfirullah, separah itukah diriku, yang kini memilih untuk sendiri. Memang, pasca putus dengan Riko mantan tunanganku. Tak terlihat lagi, pria yang datang mengunjungi rumahku. Karena itulah, bermacam spekulasi bermunculan. Mulai dari dikancing, istilah yang entah darimana berasal, sebab kata itu merebak begitu saja, jika ada wanita tak kunjung datang jodohnya juga, atau bahasa kasarnya tak laku-laku jua. Pasti ada sesuatu di balik wanita itu. Yah, anggapan ada penghalang yang mempersulit bertemunya jodoh. Dan indikator pasti tak jauh melihat sisi lain dari kisah asmara sang wanita. Apakah ada orang lain yang pernah dekat dengan wanita tersebut? maka, pria itulah yang akan dicurigai sebagai dalang penghambat. Takutnya diguna-guna, biar gak laku. Ternyata, sugesti tak karuan ini begitu merugikan banyak pihak. Selain wanita tersebut yang mungkin bisa dirundung perasaan tak tenang, akibat efek pernyataan tersebut. hal ini pula dapat mempengaruhi keluarga sang wanita. Segala cara diusahakan, agar wanita ini bisa terlepas dari mantra guna dari si pengirim. Kosakata “cinta ditolak, dukun bertindak” masihkah berlaku bagi mereka yang pernah mereguk kisah asmara. Apakah lelaki yang katanya bertugas melindungi kaum hawa berbuat demikian, saat cinta tak lagi bersemai? Dan sempat terlintas kehendak aku ingin sekali menanyakan hal ini kepada Riko, apakah dia melakukan itu terhadapku? Hingga orang tuaku mulai bertindak sesuatu yang tak seharusnya dilakukan mereka. Apalagi jika bertentangan dengan ajaran agama. Lima bulan lalu, aku sempat disuguhi berbagai ritual aneh-aneh. Seperti bunda yang menyuruhku mandi kembang selama tujuh hari berturut-turut, katanya itu risalah dari seorang bu Nyai berinisial “M”. Tapi, tanpa sepengetahuan bunda. Aku hanya membasahi racikan bunga yang baunya ngeh seperti bau kembang orang mati. Lalu ku buang seusai mandi. Maaf bunda, aku tak ingin mandi kembang. Karena aku lebih suka wangi sabun mandi.
 Tak henti sampai disitu, bunda sering berbagi keluh asa kepada saudara-saudaranya. Tak ayal, pak lek Hadi turut memanggilkan orang pintar yang disebutnya ustadz.
“Dia asalnya dari Madiun, sudah banyak orang yang jodoh (cocok) sama bantuannya,” tutur bunda, sehabis mendengarkan profil sang ustadz dari pak lek.   
Kalau ingat cerita ini, aku tak kuasa menahan tawa. Yah, seperti biasa aku pun harus mengikuti prosesi ritual yang dilakukan ustadz “brengos” julukan yang kusematkan, berkat kumis tipisnya yang klimis. Aku disuruh berdiri menghadap kiblat, lalu dari kejauhan ustadz brengos terlihat memejamkan kedua mata, sembari menggerak-gerakkan tangan kanannya, seperti orang melambai-lambai ke kiri ke kanan. Tak lupa, mulutnya komat-kamit membaca lafadz-lafadz al quran. Yang kudengar, dia melantunkan ayat kursi. Setelah itu, dia pindah tempat berdiri di belakangku. Saat itu ku amati, rautnya nampak serius. Pun keringat telah menjalari tubuhnya, hm kayak abis ikut tinju aja, pikiranku berkelakar. Dan aku terkejut, saat tiba-tiba dia memukulkan satu batang lidi ke kepalaku kira-kira lima kali. Sontak aku cekikikan. Apa-apaan ini. Emangnya aku kesurupan.
Hanya butuh 15 menit saja, proses ini berjalan. lalu ustadz brengos melanjutkan kegiatannya dengan meminta bedak powder yang baru. Agar nanti kupakai. Kebetulan bunda menyimpan bedak baru, di bawah laci lemari kerja.
“Ini tadi pagi, aku barusan beli, jadi masih anyar,” ujar bunda sembari menyerahkan revil bedak berukuran 5 x 4 cm, berwarna yellow beage kepadaku. Setelah mendapatkan bedak tersebut, ustad brengos memohon diri untuk masuk ke suatu ruangan sepi. Bundaku pun menunjuk ke sebuah kamar tamu, pintu pun ditutup rapat. Tak heran, pasti mau bikin aji-ajian pada bedak itu.
Lima menit berlalu, ustad brengos itu keluar. Lalu, diserahkan ke pak lek, seraya berbisik-bisik. Seusai itu, ia berpamitan pulang kepada aku dan bunda. Sebelumnya, bunda menitipkan lembaran rupiah kepada pak lek, yang kemudian diberikan ke ustad tersebut. Tak lupa, ustad itu menyampaikan risalah kepadaku.
“Insyaallah, semoga habis ini kamu lekas dipertemukan sama jodoh mu,” harapnya.
“Amiin pak,” jawabku. Walau pun caranya tadi menurutku bersimpangan, tapi dia cukup bijak dalam bertutur.
Masih berlanjut, sehabis mengantarkan ustad tadi, pak lek mendekatiku sembari memberikan bedak tersebut. Tak lupa adik bapak ini berpesan,
“Kalo berpergian keluar rumah, jangan lupa pake bedak ini, agar auramu terlihat memancar, sambil berpoles, baca doa hawwala sebanyak tujuh kali,” aku pun cuman bisa menjawab “iya” saja. Meski dalam hati beristighfar menjalani ini. Percuma, aku mengelak, tetap saja tak ada yang mafhum.
Namun, bedak dari ustad brengos itu aku sembunyikan. Karena powder milikku masih ada, dan beruntung bentuknya tak jauh beda dengan bedak yang telah terkena rangkaian mantra doa-doa. Dan aksiku ini, tidak diketahui bunda. Walau pun beberapa kali, bunda mengontrol dan menanyakan perihal tersebut. Lagi-lagi aku harus berani bohong.
Dan aku bersyukur, ketika selang satu minggu berlalu, saat aku baru pulang dari mengajar ngaji. Rumah pak lek hadi yang satu gang dan berjarak lima petak dari tempat hunian keluargaku, dengan duduk santai diatas dengklek kayu meneriaki namaku, sontak aku menoleh.
“Kemari dulu, ada yang mau paman omongin ke kamu,” tandas pria bertubuh kurus nan berwajah item manis ini. Kerenyut dahiku menekuk. Kini, pak lek sudah tepat berada didekat ku. Sembari memainkan kaca spion kanan sepedaku,
“Ada apa lek?” tanyaku.
“Kamu belikan bedak baru lagi, bedak yang kemarin itu katanya ustad bekas dari ibu mu,” ujar pamanku ini.
“O ya lek, insyaallah ya,” jawabku.
“Secepatnya ya Rin,” tukas pak lek menyebutku Rin, diambil dari nama tengahku, Karina. Bersama sepeda supra 125X aku segera beranjak kembali ke rumah. Tak lupa, bibirku tersungging riang mendengar pengakuan pak lek. Ternyata, Allah SWT melindungiku dari perangai ini. Subhanallah, terima kasih ya Robb, Kau perlahan menuntunku, agar terjaga dari hal-hal menyimpang. Dan urusan bedak ini, cukup menjadi rahasia berhargaku saja.
#                        #                        #
Perjalanan ke Madura ditempuh selama empat jam, ada ayah, aku, adikku Aliya, keponakanku Rafly, bocah berusia 5 tahun ini, sengaja ku ajak, biar tambah ramai aja waktu di mobil. Kebetulan, ayah menyewa supir untuk mengendarai kijang innova silvernya. Maklum, jarak menuju lokasi desa kami lumayan jauh, hampir 16 km dari Surabaya, yah, namanya juga ndeso poll.
Dari Surabaya kami berangkat siang pukul 12.00 WIB, sesampainya disana pukul 15.30 WIB. Belum lagi, kondisi kota Sampang pada tahun ini tergenang air banjir. Jadi, terpaksa kami harus memutar mencari jalan alternatif.
Dan jam empat pas waktu sore, kami pun tiba di kampung halaman eyang putri kami. Saudara-saudara kecilku telah menyambut kedatangan kami.
“Mbak Karin,” panggil Anas menghampiriku, saat aku turun dari mobil. Ia menyalamiku. Tubuh kecilnya lumayan berisi, terang saja usianya kini memasuki 6 tahun. Hampir sepadan dengan Rafly, cuman bedanya Rafly tidak bisa berbahasa Madura, sedari orok dia memang terlahir di Surabaya, sedangkan Anas sejak dalam kandungan, kedua orang tuanya asli berstatus penduduk medunten.
Di langgar, paman Anshori terlihat duduk bersila, ia tengah menemani seorang lelaki yang telah berumur. Sepantasnya aku sebut dia kakek tua, yah, guratan kerut mulai mengeriputkan setiap kulit di tubuhnya. Namun, nada suaranya masih terdengar lugas, tegas.  Dengan memakai sarung, baju batik cokelat lengan panjang, kopyah hitam pria itu sesekali meminum kopi yang dihidangkan, berlanjut menghisap rokok puntung yang diapit oleh jari telunjuk dan jari tengahnya. Seketika ayah turut bergabung ke langgar. Aku, Aliya dan Rafly diajak isri paman Anshori Bi Nafisah masuk ke dalam rumah keluarga. Namun, pandanganku ketika sampai, tak hentinya tak mau lepas menatap bapak tua yang kutaksir berumur 60 tahun ke atas itu.
Hari akan menunjukkan semakin petang, Aliya minta ditemani ke kamar mandi, karena setiap bilik di sekitar rumah memiliki ruang terpisah. Ruang dapur berada di depan halaman rumah, perlu sekitar 15 langkah menuju ke sana, sedangkan kamar mandi di sebelah kiri rumah hanya butuh 10 langkah. Yah, kalau dipantau melalui satelit palapa, rancangan rumah eyang kami berbentuk persegi panjang, berhadapan dengan ruang lainnya. Setiap bangunan mempunyai kegunaan sendiri. Rumah keluarga, rumah tamu, rumah dapur, serta bangunan langgar yang multiguna bagi siapapun, tapi langgar khusus digunakan untuk sarana ibadah.   
Bau aneh tiba-tiba menyergap penciumanku. Oh, tidak, paman anshori membawa tungku yang berisi bakar-bakaran, benda putih itu terlihat meliuk-liuk mengepul, lalu menyerebakkan aromanya yang membuatku terganggu, tak salah lagi, untuk kesekian kalinya aku akan menjalani ritual konyol ini. Bubuk kemenyan yang telah dibangkitkan oleh api itu, berhamburan berubah asap yang siap membantu mengusir kekuatan jahat dan buruk.
Tungku kemenyan ditaruh disamping kamar mandi, lalu paman anshori mondar mandir lagi mengambil bak air yang telah bertaburan the flowers seven of face, dan sebuah kain putih, yang tak jelas kuamati, ikut menyusul keberadaan kemenyan tersebut. seakan, perlengkapan ritual telah tersaji. Pak tua itu mendekati paman Anshori, dan ayahku. Sedangkan, aku yang hanya bisa memandang aktifitas barusan, duduk terdiam terpaku. Hatiku berbisik, aku tahu apa yang harus kuperbuat.
“Rin, cepat ganti bajumu, terus keluar nak” perintah ayah.
“Mau ngapaian yah?” tanyaku curiga.
“Kamu mau dimandi’in ama pak kyai, buat tombo,” terang ayah, yang jelas akan kutentang.
“Sebenarnya ayah sadar gak sih, apa yang dilakuin ini gak benar yah, ngapain dia mau mandi’in aku?” protesku.
“Gak usah bantah, mandinya cuman sebentar kok, ntar mandinya sambil di bacakan doa-doa ama kyai,”
“Maaf yah, tapi aku gak mau jika caranya kaya gini, ayah kan tahu hal ini jelas dilarang oleh agama,”
“Ndak nak, kamu nanti cuman disiram aja trus didoain, biar kamu cepat sembuh,” ungkapan ayah, seketika membuat kedua pelupuk mataku menganak.
“Aku tuh gak sakit yah, ayah itu seharusnya percaya dengan Allah bukan sama dia,” tunjukku langsung mengarah lelaki tua, yang dari kejauhan, kusoroti dia seperti tak sabaran melihat gelagatku.
“Rin, ini namanya ikhtiar nak, tolonglah kamu turuti,”
“Mendingan aku dikasih bacaan doa-doa yah, daripada harus dimandikan ama dia,” sesegukanku mulai parah, air mataku pun jatuh mewakili rasa sedihku ini. Aliya dan Rafly pun turut menyaksikan adegan pilu ini. Ah, Rafly, dalam tatapan diamnya, pasti batinnya bertanya, mengapa tantenya menangis?  
“Ayolah Rin, biar gak lama-lama, kita harus cepat balik ke Surabaya,” ayah menarik lengan kiriku. Tapi kutepis.
“Hanya sekali ini saja nak, cepatlah,” aku tahu ayah buru-buru memaksaku, karena ocehan pak tua itu semakin keras terdengar, sepertinya dia ikut kesal menungguku.
Bi Nafisah mendekatiku. Dan ayah pun menjauh. Pasti Bi Nafisah akan merayuku untuk memenuhi permintaan ayah itu.
“Ayolah rin, kasihan ayahmu, sudah jauh-jauh dari Surabaya, terus kamu gak mau,”
“Bi, jika aku tahu kejadiannya kayak gini, mungkin aku tidak ikut,” jawabku tegas.
“Bibi kan tahu, hal ini salah,” tambahku.
“Ya bibi tahu, tapi mau gimana lagi, ibumu sudah terlanjur meminta om mu untuk minta syarat, agar kau terbebas dari hal-hal buruk,”
“Tapi gak begini caranya, Bi, aku ngerasa sakit banget,”
“Lakukan sekali ini saja untuk terakhir kali, jika hal ini terulang lagi, kamu berhak menolak,” ungkap bi Nafis membelaiku. Tangisku sungguh membuncah. Sejenak, aku berpikir. Ya Allah, apa yang harus kuperbuat. Agar ini segera berakhir. Lalu, entahlah aku meminta inisiatif.
“Aku mau, Bi, tapi yang memandikanku harus ayah sendiri, aku gak mo pak tua itu yang menyiramiku,”
“Baiklah, akan kubicarakan dengan ayahmu, sekarang kamu ke kamarnya bu lek, ganti baju gih,”
Aku pun melangkah ke kamarnya bu lek.
Pakaian Bi Nafis sudah kupakai, seluruh tubuhku harus tertutup. Terutama kepalaku yang berhijab. Meski berbagai rasa asa bercampur satu, aku bersyukur, ayahku sendiri yang akhirnya memandikanku dengan siraman air kembang, dan aku sempat ngeri kain putih yang disematkan ditubuhku sebelum mandi, ternyata kain kafan. Astaghfirullah, tak lupa kuucapkan dzikir istighfar sebanyaknya, aku membayangkan diriku ibarat mayat hidup yang imannya sedang dilanda goncangan dahsyat. Sembari menyiramiku, ayah melafadzkan doa-doa yang diajarin bapak tua itu. Saat siraman ke lima membasahi tubuhku, aku minta berhenti. Bukan karena kedinginan. Ada sesuatu yang tiba-tiba menyelimutiku, hingga buluk kuduk merinding. Innalillah, aku baru ingat, tepat letak ayah memandikanku, disamping kamar mandi, ternyata di belakangnya ada tempat pemakaman keluarga besar kami. Seandainya, nenekku masih hidup dia pasti membelaku, karena dia adalah sosok yang agamis. Namun aku tahu dibalik peristirahatan panjangnya, beliau pasti mengetahui kejadian ini. Dan aku, walau sesungguhnya ingin marah atas perlakuan ini, aku berusaha menahan, agar aku kuat dengan tonggak ketabahanku. Karena Allah tak akan pernah melepas tangan hamba-Nya, bagi mereka yang bersabar atas cobaan dan ujian hidup.   
     #                    #                # 
 Seusai sholat maghrib, kami berpamitan pulang kepada bibi Nafisah dan paman Anshori. Sebelum beranjak pulang, paman memberiku sebuah botol kecil berisi cairan merah.
“ini titipan dari kyai,” paparnya seraya memindahkan ke tanganku.
“Sehabis sholat maghrib baca doa ini, terus kalau mau keluar rumah, jangan lupa ini dipakai, sambil memohon, agar siapa pun yang meihat kamu, dia langsung suka, hingga dia terus memikirkan kamu, sampai dia tergila-gila jatuh hati padamu,” tutur paman Anshori bertele-tele panjang lebar, kayak membacakan teks drama saja.
“Ceritanya ini minyak wangi mahabbah ya man?” tandasku.
“Sudahlah dipakai saja,” balas paman.
“Tapi aku mau Tanya, paman kan dulu sempat nyantri di pesantren, apa hal ini diperbolehkan, kan sama saja bikin orang lain terhipnotis,” sindirku sambil kuselingi gurauan. Sayangnya, paman Anshori tak menjawab, dia hanya meringis. Sudah kutebak, paman tidak berani menjawab. Mungkin ngerasa malu atau lainnya.
Perjalanan pulang butuh waktu berjam-jam pula. Di dalam mobil, keponakanku Rafly melihatku kemudian duduk di pangkuanku, ia setengah berbisik mendekatkan kepalanya kewajahku.
“Tante tadi kok nangis, napa?” tanyanya polos. Subhanallah, ternyata ia ingin tahu. Aliya yang juga mendengar pertanyaan Rafly, memandangku. Dan kujawab,
“Tante tadi kelilipan, habis ngeliat bintang jatuh,” dan ia pun hanya tertawa mendengar jawabanku. Ah, semoga saja dia tak mengerti atas apa yang telah menimpaku. Dan semoga saja Aliya tak pernah mengalami hal serupa denganku, adikku yang terpaut 5 tahun denganku ini, tanpa kujelaskan, dia sudah memahami di balik semua kejadian ini.
“Semoga hati ayah dan bunda terketuk mbak,” harapnya jua.
Dan sebuah pesan sms masuk. Dari Laila, sahabat karib semasa kuliah dulu.
- Selamat tahun baru Islam 1 Muharam 1432 H 
Semoga menjadi insan yang lebih baik dan kaffah
Semoga Iman dan taqwa kita terjaga hanya untuk-Nya
amiin-
seketika, buliran kristal perlahan keluar dari kedua kelopak mataku, mewakili segenap asa yang tertimbun di dada.

     #                    #                    #
  
 
 

Kesetiaan itu Langka tapi Ada

Hachiko: A Dog's Story, dibintangi oleh aktor yang memiliki ketampanan "abadi" (sampai tua gitu tetep aja keren) Richard Gere yang berperan sebagai Prof. Parker Wilson serta Joan Allen sebagai Cate Wilson, istri sang profesor. Kisah berawal ketika Ronnie berkisah tentang pahlawannya. Seekor anjing milik kakeknya.

Seekor anjing dikirim dalam sebuah perjalanan oleh seorang biksu di Jepang. Dalam perjalanannya, Hachiko akhirnya "lepas" di sebuah stasiun di kota Bedridge. Kemudian, si anjing yang tersesat bertemu dengan Parker. Prof. Parker bermaksud untuk menitipkan si anjing pada Carl, petugas stasiun, tapi Carl menolaknya dan menyarankan agar Parker membawa pulang anjing itu. Akhirnya Parker membawa pulang anjing itu. Meskipun di awal istrinya menolak kehadiran anjing itu, namun kemudian ia menerimanya karena melihat Parker dan anaknya Andy begitu bahagia dengan kehadiran anjing itu. Parker membawa si anjing kepada temannya Ken. Ken pun menjelaskan tentang anjing yang berjenis Akita dan ia pun membaca kalung yang melingkari leher anjing itu. Di liontin itu ada huruf kanji yang berarti Hachi atau delapan. Ia menjelaskan bahwa Hachi adalah lambang keberuntungan. Dan anjing jenis Akita adalah anjing yang begitu setia dengan majikannya. Biasanya dimiliki oleh keluarga kerajaan dan menjadi teman untuk berburu.  Sejak saat itu, anjing itu dipanggil dengan nama Hachi. Hachi mewarnai kehidupan keluarga Parker dan telah menjadi bagian dari keluarga, 
Hachi, adalah anjing yang spesial, ia begitu setia pada Parker. Saat pagi ia mengantarkan Parker ke stasiun kemudian ia pulang dan kembali ke stasiun tepat pukul 5 kurang 5 untuk menjemput Parker. Begitu seterusnya, Hachi selalu melakukan "ritual" yang sama setiap harinya. Apa yang dilakukan Hachi menarik perhatian banyak orang di sekitar stasiun, Jasjeet, si penjual hot dog, Mary Ann penjual buku, Carl petugas stasiun, dan pasangan suami istri penjual daging. Hachi setia menunggu kedatangan Parker di depan pintu stasiun dari hari ke hari. Hingga Parker kemudian meninggal di kampusnya dan tidak pernah keluar dari pintu stasiun untuk pulang. Tapi Hachi terus menunggunya hingga malam, hingga Andy, anak Parker, menjemput Hachi pulang.
Setelah Parker meninggal dunia, Hachi tinggal bersama Andy. Namun, Hachi sepertinya ikut merasakan kehilangan, ia tidak banyak beraktifitas. Hingga suatu hari Hachi kabur dari rumah dan pergi ke stasiun di kota Bedridge. Sejak itu ia terus menunggu "kedatangan" Parker, tuannya, di depan pintu stasiun. Di tempat yang sama setiap harinya. Hingga musim berganti dan Hachi pun menjadi pembicaraan setiap orang di kota itu hingga menarik seorang wartawan untuk meliputnya. Selepas itu kisah tentang Hachi, anjing yang setia menunggu kedatangan tuannya yang sudah meninggal menjadi legenda di kita itu. Hachi telah menjadi bagian dari hidup semua orang di Bedridge. Hachi terus menunggu di stasiun hingga 10 tahun kemudian. Cate yang sedang berziarah di makam Parker, terkejut karena melihat Hachi masih setia menunggu. Hachi terus setia menunggu hingga dia meninggal di depan stasiun itu.
Film ini terinspirasi dari kisah yang sama tentang Hachiko, anjing yang setia pada tuannya Prof. Hidesaburo Ueno, profesor departemen agricultur di Universitas Tokyo, Jepang. Hachi di dunia nyata meninggal di tahun 1935. Hachi menjadi legenda di kota Shibuya, Jepang. Bahkan di depan stasiun Shibuya terdapat monumen Hachiko.
Hachiko mengajarkan saya akan banyak hal. Terutama adalah tentang kesetiaan. Kesetiaan yang hanya patah oleh usia. Kesetiaan tanpa pamrih. Kesetiaan yang hanya dapat terjadi, jika tidak hanya rasa cinta kasih yang mendasari sebuah hubungan melainkan juga bentuk penghormatan, menghargai, pengabdian, dan mendasarkan semua pada kepercayaan.
Berharap sebuah kesetiaan ataupun bersetia pada satu diri mungkin merupakan barang langka sekarang ini. Banyak sekali alasan yang dijadikan pembenaran saat sebuah perselingkuhan atau ketidaksetiaan terjadi. Namun bukan berarti kesetiaan abadi itu tidak ada. Beberapa kisah bertebar di sekitar kita. Salah satunya adalah kisah seorang wanita yang memegang kesetiaannya hingga ruh terpisah dari raganya. Ainun Habibie, wanita berusia 72 tahun, istri dari presiden ketiga Indonesia BJ Habibie. Kisah Ibu Ainun menjadi istimewa bagi saya, karena beliau dengan setianya mendampingi sang suami dalam keadaan apapun dan dimanapun Pak Habibie berada. Di Jerman maupun Indonesia. Kesetiaan dan kebaikan Ibu Ainun yang selalu ada di sisi suaminya membuat beliau pun mendapat perlakuan yang sama dari suami dan anak-anaknya. Pak Habibie tak sesaat pun beranjak dari isi Ibu Ainun. Hingga beliau menghembuskan nafas terakhirnya di Jerman.
Dua kisah ini benar-benar membuat saya tersadarkan. Kesetiaan tidak dapat diraih dalam waktu sekejap. Kesetiaan adalah sebuah proses panjang sebuah hubungan. Apakah itu hubungan antar manusia pun manusia dengan makhluk lain.
Mungkin saya bukan Hachiko yang begitu setia dengan tuannya atau Ibu Ainun yang memegang teguh kesetiaannya hingga ruh itu terlepas. Saya hanya perempuan yang cukup tahu apa itu mencintai, pengorbanan, dan kesetiaan. Saya perempuan yang tahu menempatkan kesetiaan saya sampai sejauh apa. Saya perempuan yang tahu kepada siapa saya harus setia dan menunggu kehadirannya.
Kesetiaan itu langka tapi ada.

A True Story of Faith, Devotion and Undying Love
 

Janji Setia Episode 2

Di lantai empat kantor redaksi, gedung Potret.
Aku sungguh tidak menyangka, baru enam bulan seusai wisuda. Kesempatan bekerja pun menghampiriku. Padahal, baru pertama kali menaruh surat lamaran kerja di institusi sebuah pers terkenal. Menjalani sgala tahap test seleksi, akhirnya aku lolos jadi fotografer. Cihuy, senangnya hatiku. Namaku Alisa Fitri Maharani. Biasa dipanggil Pipit atau Rani atau terserah sesuka hati.
Setelah kemarin Potret menerimaku. Hari ini pulalah aku langsung bekerja. Jadi, jam Sembilan pagi, aku must ontime, karena ada rapat pembahasan tema edisi selanjutnya. Setiba di kantor, seketika aku langsung bergabung dengan kru lainnya. Beruntung, aku tepat waktu. Tapi, rapat redaksi belum dimulai. Kebetulan, posisi kursiku bersebelahan dengan Sekar.
“Pagi mbak,” sapaku menyuguhi ukiran bibirku.
“Pagi juga,” balasnya tanpa memandangku. Kerenyut dahiku menekuk. Memang bukan hal mudah, untuk memulai aktivitas hari pertama di kantor. Mulai dari beradaptasi dengan seluruh kru, karyawan dan manusia yang ada di sekitar gedung berlantai delapan ini. Tak perlu bertanya identitas. Id card telah terpasang di sebelah dada kiri dengan pakaian berwarna hitam pada tiap karyawan. Kebetulan, aku belum mendapat seragam. Jadi, meski agak canggung tapi aku mencoba bersikap sok akrab, dan memaksa diri tuk berbaur.
Kami duduk mengitari meja elips terbuat bahan campuran batu marmer dan pualam, berwarna biru putih. Para pemburu kejadian pun telah memenuhi kursi masing-masing. Tampang mereka memang sangat responsible dan menyimpan ability kuat. Aura journalist mereka sungguh ketara. Seiring bergulirnya masa, pasti mereka sudah tahan banting menjalani profesi sebagai jurnalis dan  fotografer. Yang kerjanya bergelut dengan bermacam peristiwa kehidupan di luar. Apalagi wartawan, kudu siap wara wiri mengejar bermacam bentuk tipologi narasumber, yang kadang keukeh sulit untuk dimintai keterangan. Tak peduli dicibir, diacuhkan, terpenting saat penyetoran berita, kevalidan data telah tersusun berupa kalimat paragraph.
“Selamat pagi semuanya,” suara seorang gadis berambut panjang hitam lurus sebahu memakai syal merah itu telah hadir menduduki kursi paling khusus diantara kru. Dan para insan yang berjumlah sekitar 15 orang termasuk aku serempak membalas salamnya “selamat pagi juga”, kepada gadis bernama lengkap Eva Maya Wulandari.
“Loh, mana kak Abdi, kok kamu duduki tempatnya kakak?” Sekar langsung menyerobot tanpa ikutan salam dengan kru. Intaian mata pun menuju ke arah gadis berkulit kuning langsat itu.
“Sebelumnya, saya ingin menyampaikan bahwa mas Abdi lagi ada halangan dia lagi ngeliput ke luar kota, jadi kalian semua ada titipan salam maaf darinya dan rapat kali ini, lagi-lagi saya dipercayai untuk menghandle rapat ini, terima kasih” Maya mengakhiri ucapannya.
Kulirik Sekar manyun, kayak sensi banget dengan wanita yang menempati kursi Abdi, abangnya. Acara penentuan tema pun dimulai. Beragam usulan judul bersahutan dari pribadi para kru. Semuanya berdasarkan pengalaman dan realita. Ada yang ingin mengungkap kasus prostitusi remaja, perdagangan anak (trafficking), merebaknya video mesum, semarak lokalisasi, bahkan ada masukan tema yang ingin menguak tentang kritik kinerja pemerintahan pada saat ini. Hm, lumayan berbobot. Sekaligus lebih menantang. Masing-masing mereka menjelaskan maksud dari tema yang diajukan. Jika ditemui ada satu hal menarik yang perlu ditelusuri, maka semua harus sepakat untuk menggarapnya.
“Ada yang lain?” suara Maya membuatku menatapnya dengan senyum.
“Pipit?” aku glagapan namaku disebut.
“Punya usulan tema?” Tanya perempuan bermata sayu itu. Tanpa babibu. Aku mengiyakan.
“Tentang kasus penculikan, mbak” ujarku ngasal. Entah, mengapa lidahku ingin mengeluarkan kata-kata itu. Padahal aku hanya sekedar mengingat judul hotnews berita pada salah satu koran yang kubaca tadi pagi. Akibatnya pun sekarang seluruh bola hitam putih manusia di ruangan itu mengekoriku. Seakan waktu tiba-tiba tak bergerak, dan para jiwa pun mematung. Mungkin usulanku terdengar konyol, aku pun hanya melebarkan bibirku.
“Maaf jika temaku agak kurang menarik,” timpalku menyelamatkan diri.
Tapi, Maya menampakkan ekspresi lain. Dia menyuguhiku dengan senyuman, kupikir hal itu penunjuk baik.
“Boleh juga usulmu Pit, apa alasanmu ingin mengusung tema itu?”
“Sebenarnya sih, aku hanya sekedar bilang aja, jadi alasannya aku gak tahu, napa aku bisa langsung ngomong gitu, hm, mungkin ini efek baca berita hari ini mbak, jadi kebawa deh?” selorohku datar.
“Maksudmu tentang misteri peristiwa 4 tahun hilangnya model cantik Lorensia Stefanny,” kepalaku angguk, membenarkan.
“Kebetulan juga tadi aku sempat membaca beritanya di koran, hari ini adalah hari peristiwa dimana Stefanny tiba-tiba lenyap pacsa show di taman anggrek Jakarta” sahut salah satu kru lain.
Kepala Maya bergerak mengamati Andika Purnomo, pemilik suara barusan ialah cowok berkaos dagadu hitam dengan rambut hitam cepak, berpiawakan tubuh gemar atlet, nampak dada rampingny terbungkus mengekar.
“Meski aku baru 2 tahun bergabung disini, peristiwa raibnya beberapa gadis yang terkenal itu sampai sekarang belum diketahui keberadaan nasib mereka, polisi pun sempat kewalahan mencari jejak si pelaku, hingga kini tak ada yang tahu motif apa sebenarnya yang terjadi dibalik kejadian ini,” jelas pria berusia 27 tahun itu.
“Kamu benar Dika, kejadian itu memang membingungkan banyak khalayak apalagi pihak tertentu, terlebih hingga sekarang orangnya belum  ditemukan, entah dia masih hidup atau sudah mati, tak ada yang bisa memastikan, apakah itu kasus penculikan atau….” Sekar yang langsung melanjutkan arah pembicaraan Andika barusan, ia menggantung perkataannya sambil melirik ke Maya.
“Atau pembunuhan,” ucapnya dengan intonasi ditekan. Layaknya kata itu ditujukan untuk seseorang. Sekar mengekor dengan sorot ketegasan. Dengan duduk berjarak dua meteran, Maya segera membuang muka, seakan ia tak mau ada yang terbaca dari sirat kedua matanya.
“Kalau begitu, kita voting aja,” tukas Maya tak mau berpanjang lebar.
Dari ke 15 orang yang menghadiri rapat. Hanya Sembilan acungan tangan yang menyepakati. Aku pun jua.
“Baiklah, kita deal kan untuk mengambil tema ini untuk dijadikan rubrik kista (kisah dalam peristiwa), untuk rubrik lainnya kita bahas lagi setelah istirahat nanti,”ujar Maya, sembari menulis catatan di laptopnya.
“Silahkan break dulu, setengah jam lagi kita teruskan kembali rapat ini,” lanjut Maya mempersilahkan para kru bubar ruangan. Sebelum beranjak, aku pun mengeluarkan benda note book dengan layar 11 inc. lalu mencatat hasil rapat yang barusan diulas tadi. Kulirik sekilas, Andika dipanggil Maya, cowok jangkung itu pun membuntuti ke ruang kantor cewek kelahiran 1979 tersebut. Pasti mau membahas tentang tema tadi.
“Pit!” tepukan Sekar mengagetkan pundak kananku.
“Eh mbak Sekar, ada apa ya?” tanyaku sontak.
“Temani aku ke kantin yuk!” tanpa menolak. Aku langsung menerima ajakannya. Heranku, ternyata mbak Sekar gak terlalu jaim-jaim amat. 
Sesampai di kantin Moro Kenyang.
Aku dan sekar tengah menikmati hidangan soto banjar dengan kuahnya yang putih, dilengkapi suwiran daging ayam, plus irisan telur ayam rebus mengenyangkan. Pelepas dahaga jus alpukat semakin menambah kelengkapan menu pagi itu. Di sela-sela menyantap, kami selengi dengan obrolan berkaitan rapat dua jam lalu.
“Tak seharusnya kamu mengusulkan peristiwa itu,” tegur Sekar membuatku terperanjat. Whats wrong? Pikirku.
“Maaf mbak, aku keceplosan gak sengaja,” sahutku.
“Tapi tak apalah, dengan menginvestigasi peristiwa ini siapa tahu kita bisa membantunya untuk membongkar si pelaku,”
“Maksud –nya itu untuk siapa mbak?”
“Kudengar, Stefanny adalah kekasih kakaknya maya,” hm, aku terhenyak sejenak. Pantesan raut Maya nampak sedu tadi.
“Dan hingga saat ini, kakaknya masih mengangggap Stefanny masih hidup, sejak kekasihnya menghilang, dia selalu mengurung diri di kamarnya dan tak mau berhenti melukis wajah Fanny,” jelas Sekar.
“Kasihan banget ya mbak,” tanggapku.
“Ya begitulah, saat aku melihat langsung kondisi kak Radit, aku jadi gak tega, secara aku juga punya kak Abdi” papar Sekar sambil menyeruput jus hijaunya.
“Tiga tahun lalu, tabloid kami juga sempat menelusuri kasus ini, itu pun karena permintaan dari polres yang meminta beberapa media turut membantu, salah satunya Potret,” lanjut sekar.
“Tapi, kenapa sikap mbak kayak ketus gitu ama Maya?” tanyaku.
Sekar nyengir.
“Yah, aku BT aja pas tahu kalau dia udah pacaran ama kak Abdi, jadi tiap kali dia mengusulkan tema, selalu saja kakak mengiyakan, jadi jangan kaget kalau aku kerap nyerocos saat rapat” tandas Sekar. Membuat bibirku melebar.
“Ya udahlah, gak usah ngomongin dia, ntar jadi gak mood makannya,”
“Jangan gitulah mbak sama calon ipar sendiri,” kelakarku. Sekar hanya geleng-geleng kepala.
Dan kami berdua melanjutkan aktivitas makan. Sembari menyisip kuah soto, otakku tak henti berselancar, kini semua baru jelas. Kenapa kasus ini begitu menarik? Dan aku baru tahu jawabannya.
###
Malam telah menampakkan gurat gelap. Pekat hitam menyelimuti sebagian atmosfir bumi.
Diruang luas 10 x 8 m, seorang gadis mengamati bongkahan es panjang sekitar tiga meter. Dengan posisi tidur, bola matanya yang nampak sedan namun tak menentu tengah menatap dalam balok es itu. Kedua tangannya yang terbungkus sarung tangan putih perlahan meraba dan mengelus penuh arti di sekitar ujung paling atas es.
“Selamat malam Tulip,” sapanya menatap bongkahan es panjang itu. Biasanya jika ada ucapan salam, pasti ada balasan. Namun, ini tidak, keadaan masih tetap hening. Gadis berambut panjang itu menunjukkan senyum sumringah.
“Aku tahu kamu lebih senang di sini, karena disini kita keluarga yang tak bisa terpisahkan,” ungkapnya. Wajah gadis berkulit putih ini semakin mendekat pada benda cair yang berwujud padat itu.
“Terutama aku, sampai kapan pun kita akan selalu bersama” ujarnya tiba-tiba seketika memeluk benda dingin itu. Tanpa peduli suhu es yang bisa mengigilkan tubuhnya. Namun tak lama kemudian ia melepaskan dekapannya. Lalu beranjak, ke kotak lemari pendingin yang lain, ia buka semua sekitar tiga pintu. Isi sama, balok panjang es tiga meter.
“Ketahuilah aku sayang banget ama kalian, jadi kalian harus temani aku,” paparnya seakan berbicara pada dirinya sendiri. Tapi, pandangannya tak mau enyah dari keempat balok tersebut. ada sesuatu tak biasa, meski tiap kali berbicara tak ada sahutan di ruang, ia merasa tak sendiri. ada jalinan komunikasi, antara dia dengan kebekuan es balok itu.
“Hari sudah malam, kalian istirahat ya,” tanpa menunggu, gadis yang memakai kain sutera panjang melilit di lehernya itu segera menutup kembali pintu lemari. Dirasa sudah merapatkan kembali pintu berbahan besi karet itu, ia melangkahkan kaki menuju pintu keluar. Tapi, kepalanya menoleh ke belakang, ia merasa berat hati. Akhirnya dia berbalik lagi.
“Biar kalian tidur pulas, aku akan menyanyikan lagu untuk kalian,” tawarnya, lalu mencari tempat duduk yang nyaman, sekalian bersandar di sebuah kursi bergoyang terbuat kayu.
Lihat tamanku penuh dengan bunga
Ada perinya dan ada putrinya
Setiap hari kita menyanyi
Agar sang puteri selalu tertawa


Lantunan gadis itu benar-benar membuat suasana mencekam. Kata-kata lihat kebunku, diubahnya spontan. Angin malam masuk dari celah-celah balik tembok pun menerpa rambut hitamnya. Dan sesuatu tak terlihat tanpa permisi turut meramaikan nyanyian gadis tersebut, iya jiwa-jiwa yang tak lagi berpenghuni mulai berkelebatan menari-nari di ruang itu, namun mereka seakan ingin mengatakan sesuatu, tapi sayang suara mereka tak bisa didengar oleh siapa pun, kecuali gadis itu. Terlihat malah khusyu bersenandung. Sepertinya gadis itu mendengar, tapi ia malah tak peduli akan jeritan mereka. Karena ia menyukai bisikan itu, suara-suara yang tak pernah diberi ampun.  
###
Pukul 09.00 WIB
Papan whiteboard telah dipenuhi coretan tulisan spidol boardmaker. Sesekali ruas kelima tangan kanan Andika memainkan benda panjang seukuran satu depa, yang bisa mengeluarkan cairan hitam itu. Lalu menyusun huruf “Laura Hasti”, selayang pandang Andika kembali menatap keempat orang yang tengah duduk di kursi. Hampir sejam, konsentrasi mereka terpacu pada pembahasan terkait rapat tema kemarin. Sesuai kesepakatan, kasus ini diserahkan kepada kami berlima, aku, Sekar, Andika, Nindy dan Joni.
“Nama siapa tuh dik?” tanyaku.
 “Semalam aku dapat info dari teman persku, Laura Hasti adalah salah satu teman akrab Stefanny semasa kecil waktu di sekolah dulu, dan dia bukan artis melainkan designer, pastinya kalian semua tahu kan merk rancangannya?”
Aku menggeleng. Karena tidak tahu.
“Laura Collection, hasil rancangannya memang banyak diminati oleh kalangan artis, maupun entrepreneur, karena fashion yang ia tunjukkan selalu up to date” sahut Nindy, rekan timku.
"Tapi, apakah dia mau dimintai keterangan?" tanyaku.
"Kita coba saja, yah minimal kita harus mengetahui seberapa dekat dia dengan Stefanny," jawab Andika
“Kebetulan dia besok tiba dari Singapura, jadi kita bisa jadikan dia sebagai salah satu narasumber terkait dengan raibnya Stefanny,” lanjut Andika.
“Boleh juga, kira-kira kapan pesawatnya take in?” tanya Sekar.
“Diperkirakan jam delapan malam di bandara ,” jawab cowok kelahiran Madiun.
“Oke, so besok kita stand by jam enam malam,” kata Sekar. Dan kami berlima pun mengakhiri rapat pagi ini.
###
Bersambung....

Janji Setia Para Peri dan Sang Putri

Sebuah koran harian pagi Surabaya pada tahun 1990, memuat berita headline menghebohkan, terutama bagi penghuni di panti asuhan purnama pelangi, di jalan Lasem 44. Judul besar terpampang di halaman pertama newspaper MoMeNt,
 “Api Melalap Purnama Pelangi, Satu Tewas”
dan pada lead pertama;
Berawal tercium bau sengat, lalu tiba-tiba percikan kilat menyembur berasal dari meteran listrik, seketika membesar hingga merambat ke aliran lainnya. Lalai, tak langsung padamkan, kobaran merah pun menghabisi bangunan tua hijau milik Ibu Lastri Purnama.

Sejak peristiwa menakutkan itu, pengelola yayasan panti asuhan purnama Pelangi, memilih merelokasi ke tempat baru. Mengingat, bangunan tua yang berdiri 1970 itu telah mengalami kerusakan total dan meninggalkan trauma mendalam bagi 200 wajah-wajah polos tak berdosa. Kayu-kayu cokelat penyangga yang mengokohkan 20 kamar para peri kecil telah berubah hitam, genteng-genteng atap pelindung sengatan panas dan air langit pun sudah kembali berabu. Mainan ayunan, selancaran dan lainnya pun juga menghilang, tapi pantas saja benda-benda itu bergegas menyelamatkan diri, dengan cara mencairkan kesatuannya yang melekat, meleleh dan menetes satu persatu. Dan semuanya jadi debu lapuk, lalu tertiup angin tak menyisakan, dan tak berguna lagi. Namun, kenangan di dalam panti ini tak kan memudar. Tangisan, senyuman, ocehan dan berbagai peristiwa telah tertoreh dalam catatan sejarah cerita tentang mereka para penghuni Purnama Pelangi. Namun, bertahun-tahun mengubur sebuah kisah yang terlupakan. Hingga kini, tak satupun mencari tahu.

###

15 tahun kemudian…
Di kantor Potret salah satu media cetak dwiminggu terkenal di Surabaya, tepatnya di lantai 6 tengah dipadati oleh para pendaftar calon fotographer, ada sekitar 30 orang yang mengirim surat lamaran kerja ke office redaksi. Setelah hampir dua bulan, majalah yang konsumennya dari kalangan menengah dan ke atas ini telah mencantumkan pengumuman mencari “fotografer sejati” di beberapa edisi terbitan.
Para kandidat rata-rata berusia sekitar 20 tahun sedang menunggu di ruang tunggu, sesekali mereka melirik pintu yang tertempel tulisan “Ruang Interview”. Sembari menanti panggilan untuk tes wawancara, mayoritas mereka terdiri dari cowok dan beberapa cewek menyibukkan diri dengan melakukan hal-hal sesukanya. Agar tidak jenuh, ada yang memanfaatkan ponsel hpnya bermain game, ada yang FB-an, chatting-an, bahkan ada yang mendengarkan musik. Seperti cewek yang lagi nangkring berlesehan di dekat pintu para penguji, bukannya menguping. Earphone dikedua telinganya membuat dia asyik menggoyangkan kepala. Rambut panjangnya terkucir berantakan, dengan bersikap cuek, ia bebas mengekspresikan raut wajah di depan laptop 20 inci, tertawa meluapkan kekagumannya kepada koleksi foto-foto antik milik teman mayanya di balik layar monitor. Komentarpun dia utarakan dengan kata-kata sewenanya di box chat.

300 detik kemudian, tanpa disadari wanita bercelana jeans muncul dari belakangnya, membawa map biru didekapan, pena pun mulai digerakkan pada list daftar nama calon selanjutnya. Mengetahui siapa sosok yang akan di-interview. Bibir penuh polesan merah hati itu mulai menganga, dan….
“Alisha Fitri Maharani!” sebutnya. Mereka yang ada di waiting room pun saling bertukar pandang. Tak satu pun beranjak.
“Saudari Alisha Fitri Maharani!” ulangnya lagi. Tak ada sahutan.
“Mungkin gadis yang duduk di depan pintu interview mbak,” ucap seorang gadis berkacamata minus, sambil menunjuk ke arah gadis yang masih angguk-angguk kepala cuek bebek. Wanita yang bertugas men-callingearphone-nya lalu berdiri tegak. peserta fotografer menoleh ke balik punggungnya. Dahinya langsung berkerut. Bibirnya pun manyun menukik. Ia pun mempercepat langkah, mendekati gadis bersila itu. Lalu, ia menepuk pundak gadis tersebut. Refleks, gadis itu pun mendongak dan melepas
“Giliran saya ya mbak….?” Sejenak ia sipitkan kedua matanya mengamati cocard di dada hawa di depannya.
“Mbak Sekar,” akhirnya nama wanita itu terbaca.
“Nama anda Alisha Fitri Maharani?” nafasnya terhela.
Ia mengangguk tanpa innocent.
“Silahkan masuk,” tak mau bertele-tele. Wanita itu membukakan pintu. Dan Maharani pun membereskan laptopnya dan ia mengambil sesuatu dalam tasnya, topi kesayangan terbuat sulaman benang biru, ia pasangkan keatas kepala, meski cewek, gadis ini nampak tomboy. Bersamaan, keduanya masuk ke dalam. Keberuntungan tengah memilih, dari ke 20 peserta, hanya tiga yang akan menjadi fotografer tabloid Potret. Serangkaian tahap tes mulai mengikuti audisi tes interview, presentasi karya foto dan uji coba menghandle beragam jenis kamera, agar dewan juri bisa menemukan fotografer yang benar-benar memenuhi kriteria. Setelah babak penyeleksian, akhirnya terpilih dua laki-laki dan satu perempuan, yakni Alisha Fitri Maharani.

###

Ruangan kantor utama dewan redaksi milik Abdi Maulana terdengar riuh.
“Cewek udik itu kok bisa lolos seleksi sih kak, apa gak salah?”
“Dia terlihat potensial, Kar, jadi dia layak kerja di sini,”
Gadis bernama sekar itu merapatkan kedua tangan di dadanya. Merasa kesal duduk di depan meja kantor pria berusia 30 tahun ini.
“Tapi, mengapa harus satu part sama aku?,”
“Aku dah lihat hasil file picture-nya, style anggle foto yang dia ambil sama seperti milikmu, dan aku pikir kalian pasti nanti jadi partner klop,” merasa kalah berargumen. Ia pun mendesah. Dan terdiam.
“Lagian ini ini bukan hanya keputusan aku saja, kamu tahu kan pengujinya ada Maya, Daniel, jadi ini sudah hasil kesepakatan bersama,” lelaki itu berusaha memberi pengertian.
“Ajaklah dia bersamamu dulu, kalau pun dia tidak becus dan ternyata hasil kerjanya tak memuaskan, kamu boleh memberhetikannya,”
“Benar ya?” dan lelaki itu tersenyum mengangguk.
“Baik! dia akan jadi partnerku, sekaligus aku ingin tahu seberapa hebat kemampuannya,” ucapan sekar terdengar menantang.

###

Tahun 1988
Pukul 11.00 WIB hujan deras mengguyur tanah pertiwi, lampu kuning nampak temaram mencahayai lorong-lorong setiap bilik panti asuhan Purnama Pelangi. Empat wanita pengasuh dengan langkah gesit berpencar, mengitari area panti untuk memeriksa tiap sudut tempat. Apalagi air langit diam-diam menyusup di setiap atas genting, menjatuhkan sedikit-sedikit tiap tetesan Kristal cairnya. Lalu menembus basahi benda apapun dan menimpa para anak adam yang tengah terlelap. Namun, tak seorang pun mereka bangun akibat sentuhan air yang menggelembung usik pori-pori tubuh. Tetap saja, mereka melelapkan mata. Seakan terbiasa dengan kondisi seperti itu.
“Bu Ambar, tolong cepat bangunkan anak-anak di kamar hijau, suruh mereka pindah ke ruang tengah,” pinta bu Lastri, wanita pemilik mata bulat berusia 35 itu nampak tenang menghadapi situasi genting ini. Kebocoran memang sangat menganggu kenyamanan anak-anak asuhnya tatkala beraktivitas, kerentanan bangunan berlantai dua itu kerap terjadi, apalagi jika hujan turun. Air bisa merembes melepuhkan dinding-dinding fondasi, terkadang tanpa disadari lantai yang tak berkeramik pun tiba-tiba sudah membanjiri ruangan. Walau begitu, anak-anak masih kerasan.  Bahkan, jika banjir dadakan melanda panti ini, anak-anak tetap sumringah bergotong royong menyelamatkan barang-barang dipanti, dan menguras sisa-sisa air hujan. Dan malam ini, semoga saja air hujan tak menggenangi rumah kami.    
Perempuan bernama Ambar itu bergegas menuju kamar yang dimaksud. Dengan menenteng panci, baskom atau peralatan dapur lainnya ia selipkan sebisanya di tubuh. Yah, benda itu akan ditaruh disetiap tempat untuk menampung air rembesan. Sesampai dikamar hijau, ambar langsung mendekati ranjang kayu berjumlah empat dan bertingkat dua. Ranjang yang berukuran panjang 1,5 meter dan lebar 1 meter telah ditiduri oleh anak-anak panti. Saat hujan mengguyur, kamar hijau adalah kamar yang harus diselamatkan dulu, karena kamar itu rawan mudah terkena resapan air disela-sela ruang.
“Ayo bangun anak-anak…” seketika suara Ambar mengejutkan mereka semua. dan Ambar pun tengah sibuk memasang panci di bawah lantai. Wajah nan mungil itu terdiri dari tujuh anak. Kedua tangan mereka lekas mengucek kedua mata. Berusaha tersadar dari lamunan mimpi. Dan sebagian sudah berdiri tegak, sembari memeluk bantal guling dan selimut bergaris. Lalu jalan setengah sempoyongan keluar kamar. Raut wajah mereka nampak smerawutan, rambut pun acak-acakan.
“Mawar [1], cepat ajak saudara-saudara mu ke ruang tengah,”  perintah ambar.
“Iya bunda,” Gadis jalan sempoyongan itu menoleh ke belakang, langkahnya kembali menarik gadis lainnya yang sudah sah menjadi saudara sejak kecil. Meski tak punya ikatan darah. Dirinya yang paling tua berusia 10 tahun harus bisa mengayomi saudara-saudara lainnya.
“Melati[2], Tulip[3], Lily[4], Kamelia[5], Violet[6], Anggreini[7],
bangun, kapal kita mau tenggelam, ” suara Mawar seketika membangkitkan rebahan anak-anak lainnya. Gadis kecil itu sengaja memakai kata “kapal kita mau tenggelam”, sebab dia tak mau membuat para saudaranya ikutan panik, mengetahui situasi yang nyata. Berbondong-bondong mereka keluar berjajar dari kamar hijau, meski ngantuk masih membebani, meski belum menyadari bahwa pakaian tidur mereka telah basah kuyup akibat tetesan air langit atap kamar. Kamelia dan Violet yang paling bontot bersedekap di balik punggung Anggreini dan Tulip, tangan mereka menyilangi leher kedua kakak besar mereka. Bu Ambar yang mengamati pemandangan itu, tersenyum bangga, kebersamaan mereka telah menyatu ibarat keluarga. Ketujuh bidadari kecil itu ditemukan bu Lastri di tempat yang berbeda sekaligus miris.
Seperti Kamelia dan Violet di hari yang sama, kedua hawa ini didapati bu Lastri berada di bawah pohon mahoni dekat terminal. Sedangkan Anggreini, Tulip, Mawar, Melati, Lily bernasib sama, tubuh onggok mereka terbungkus dalam kresek hitam, dan tergeletak di semak-semak rerimbunan pekarangan taman. Beruntung, nyawa mereka masih bernafas, hingga kini tawa canda mereka masih terdengar lepas membumbung ke udara, seakan ingin memberi tahu kepada dunia, bahwa mereka berkesempatan hidup, melihat dan menikmati indahnya anugerah Tuhan. Sengaja bu Lastri menempatkan mereka di komplek pelangi, berada di lantai bawah sesuai macam warna pelangi terdapat tujuh kamar, dan mereka menempati kamar hijau.  
Ketujuh nama bunga yang diberi bu Lastri itu kini telah hijrah ke ruang tengah, tepatnya ruang bercerita. Tubuh mereka selojoran diatas sofa. Sekilas mirip ruang tamu, tapi tempat itu disulap untuk ajang sharing anak-anak panti. Setiap hari, setiap jam tujuh malam penghuni panti bergumul saling membagi kisah. Di panti tidak ada istilah teman, semuanya saudara.  Jika ada masalah, konflik antar saudara di panti, diruang “cemara” inilah mereka sebut, solusi akan terselesaikan. Ditemani empat bunda pengasuh, bunda Lastri, bunda Ambar, bunda Rani dan bunda Hesti.  
Hentakan air hujan masih terdengar mengalun keras, nampaknya awan hitam malam itu ingin menumpahkan cairan Kristal yang memenuhi tubuhnya. Entah di bagian tubuh sebelah mana, karena benda putih itu tampak bergumpal-gumpal melayang di udara, kadang menjelma beraneka bentuk sesukanya. Malam itu, penghuni di panti purnama pelangi kembali tertidur nyenyak, meski atap tempat tinggal mereka sebagian bocor, meski beberapa menit sempat terganggu dengan tetesan air hujan. Mereka tetap bisa melanjutkan mimpi-mimpi indah.
Hingga pagi pun menjemput, dan saat itu pula, saat mawar hendak membersihkan halaman taman depan panti, ia menjerit melengking, terkejut melihat keranjang kotak bergerak-gerak sendiri, dengan selimut putih bunga bermotif matahari tersenyum.
“Bunda………” teriaknya. Perlahan ia mendekati keranjang terbuat dari batangan kayu kecil, lalu dengan tangan gemetar, ia menyentuh kain penutupnya, dan dengan sekuat keberanian, Mawar pun mengangkat kain itu sepelan mungkin, takut kalau isinya menyeramkan. Dan saat selimut itu terangkat bebas. Mawar spontan menampakkan giginya, tertawa girang. Makhluk mungil nan menggemaskan itu tak menangis, malah dia tersenyum berbinar. Seakan memberi salam manis untuk Mawar.
“Bunda, Mawar nemuin adik baru lagi,” teriakan Mawar kali ini lebih kencang. Sembari menunggu para bunda keluar. Mawar tanpa ragu, segera mengambil bayi yang entah berapa lama tubuhnya terbaring di kelilingi tumbuhan-tumbuhan di taman.
“Hei, adik kecil, kamu jangan takut ya, kamu disini bakal baik-baik saja sama kakak?” Mawar mengobrol dengan bayi yang belum bisa bicara itu. Namun, bayi cantik itu mengeluarkan suara khasnya, tawa menggelitik. Hanya itu yang bisa ia lakukan untuk membalas perkataan Mawar. Selang menit kemudian, para bunda dan penghuni panti keluar berhamburan menghampiri Mawar yang telah menggendong si bayi. Semuanya melongo kaget.
“Subhanallah, dari mana kau temukan dia nak?” Bunda Lastri langsung memindahkan bayi itu ke dalam dekapannya. Dan anak-anak panti pun mengerumuni bunda Lastri, ingin melihat adik bayi.
“Mawar tadi mau memotong rumput, dan tiba-tiba sudah ada adik kecil ini dengan keranjang dan selimutnya,”
“Dia menangis?” Tanya bunda Hesti memeriksa kening si bayi, khawatir sakit. Mawar pun menggeleng.
“Rani dan Ambar, cepat kau amati sekitar sini, mungkin orang yang menaruh bayi ini belum jauh,” mendapat perintah Lastri, Bunda Rani dan Bunda Ambar langsung berlari keluar panti.
“Dia cantik ya kak?” ungkap Violet yang digendong Tulip, kepalanya mendongak-dongak, ingin mengetahui rupa si bayi.
“Iyalah dia kan cewek, Vio, sama kayak kamu,” sahut Tulip.
“Adik bayi di kasih nama apa ya bunda?” Tanya melati.
“Mungkin kalian punya usulan nama buat dia,” Bunda Lastri memandang ke arah Mawar. Gadis kecil yang menemukan bayi tersebut.
“Hm, gimana kalau namanya Mentari aja bunda, soalnya dia kan ditemukan di pagi hari,” sahut Mawar. Tanpa berpikir panjang, bunda Lastri mengangguk.
“Baiklah, sekarang kita punya keluarga baru lagi, namanya Mentari,” ucap bu Lastri mengumumkan kepada anak-anak panti yang tengah mengerumuninya. Seketika, semua bersorak “hore” serempak mereka diliputi perasaan bahagia.
“Hai Tari, selamat datang dirumah kami,” ungkap Mawar sambil mengelus pipi cempluk Mentari, kemudian sang bayi tertawa menggemas dan menggelitik telinga. Seakan ia juga ingin menyampaikan, bahwa dia turut senang dengan keluarga barunya.
# # #


[1] Bayi yang ditemukan oleh bu Lastri pada bulan Juni 1978 ini  memiliki makna sebagai Bunga Simbol Kasih Sayang. Keanekaragaman warna bunga mawar seringkali mengungkapkan banyak arti. Merah: cinta, keberanian, penghargaan, kuning: kegembiraan, kebahagiaan, kebebasan, pink/peach: terima kasih, syukur, kekaguman, penghargaan dan simpati, putih: penghormatan, kesucian hati, kerahasiaan, pertunangan Merah & Putih: kebersamaan

[2] Bayi yang ditemukan oleh bu Lastri pada bulan Januari 1980 ini mengandung arti nama keramahan, kesuciaan, dan kepercayaan.

[3] Bayi yang ditemukan oleh bu Lastri pada bulan April 1982, Tulip melambangkan cinta yang sempurna. cinta sejati.

[4]Bayi yang ditemukan oleh bu Lastri pada bulan Agustus 1982, Lily berarti keinginan untuk memperbaiki hubungan, permohonan maaf.

[5] Bayi yang ditemukan oleh bu Lastri pada bulan Oktober 1985,  Kamelia memiliki arti penghormatan, kecantikan, dan kesempurnaan.

[6] Bayi yang ditemukan oleh bu Lastri pada bulan Februari 1985 ini, nama bunga ini dilambangkan sebagai bunga penetralisir hubungan cinta yang nyaris berantakan.

[7]Bayi yang ditemukan oleh bu Lastri pada bulan Maret 1983, memiliki arti nama yang  melambangkan kesungguhan hati untuk memberi kasih sayang yang tulus & abadi. Serta lambang cinta, kecantikan dan keindahan.

Rindu untuk Orionku

Orionku....
Entah hari keberapa, aku tak lagi menghitungnya. Yang jelas, aku tak mampu untuk selalu baik baik saja. Aku tak bisa mengusirmu, karena sebenarnya engkau mengaliri darahku. Bagaimana mungkin aku akan membunuh bayangmu? Membunuhmu adalah juga kematianku.
Tidak ada yang lebih menyiksa selain kebenaran terpendam. Tapi, aku yakin kau tahu bagaimana perasaanku, seperti selalu kutuliskan dulu pada pesan pesanku untukmu. Ah, ingin tangan ini kembali merangkai kata untukmu, mengirimnya dengan segudang rindu yang kupupuk.
Dan hatiku menjerit, perih. Air mata pun menemani setiap kata yang tertuang. Aku pun teringat kata katamu dulu, ketika aku melabuhkan lelahku, betapa kau ingin terbang dan memelukku, menghentikan tangisku...Tapi, tidak kali ini. Kau tidak akan datang, aku harus menyimpan sisa sisa tangisku.
Orionku, elangku, ajari aku terbang. Sayapku gundul dan aku masih menanti di batas cakrawala. Hingga mentari jingga tenggelam, kau tak juga mendekat meski sekedar bayang. OH Sementara kerinduanku menenggelamkanku dalam kekosongan. Kadang aku ingin mencacimu, kadang ingin membunuhmu, tapi selalu ingin mengejarmu, memelukmu..untuk mengungkapkan yang tersisa, sebelum ajal menjemput.
Bukankah alasan itu juga yang membuat kita akhirnya sepakat bertemu? Setelah sekian lama kita saling menyayangi dalam kesemuan dunia cyber.
Ingatkah hari itu? Ingatkah minggu pagi itu? Ingatkah sepanjang jalan penuh sesak itu? Ingatkah toko buku tempatmu menunggu? Ingatkah kita main kucing kucingan di mall? Ingatkah kita berjabat tangan di tangga?
Lalu, kita minum bersama. Duduk berhadapan, dan kutangkap jelas sorot matamu yang sendu membuatku selalu merasakan betapa pengasihnya kamu. Dan mengalirlah banyak cerita. Sayang, masih kupakai topengku. Masih kusembunyikan banyak hal tentangku. Sedang kau telah banyak membuka kisahmu. Ah, betapa menyesalnya aku...andai kau mengerti.
aku sangat tahu, semua kesalahanku. Ketika aku mengakhiri sore itu. Hujan yang turun, keterburuanku meninggalkanmu... Aku tak lagi melihatmu, walau aku sangat ingin memelukmu. Entah, apa yang ada di otakku.
Orion, kini di sisa waktu yang masih kumiliki, aku telah mencoba segala cara menyampaikan maafku untukmu. Dan kau tetap menghilang Aku tahu tempat terakhir untuk mencarimu, tapi, aku tak punya keberanian untuk mengejarmu. Aku takut apa yang kulakukan malah akan melukaimu. jadi, terbanglah elangku Temukan kebahagiaanmu sendiri Meski tangis menemaniku sepanjang waktu, aku selalu belajar untuk membebaskanmu dari sangkar yang kubuat sendiri untukmu. Sangkar hatiku.
Maafkan aku Orion. Andai waktu masih mengijinkanku, aku hanya ingin menemukanmu, dan mati dipelukmu. Aku tak ingin mati seperti ini. Sudahlah, tak ada kekuatanku tuk meraihmu, mungkin ajal yang menang sebelum keberanian datang...sebelum aku melangkah.
Maaf.
Dariku,
Seseorang yang kau beri puisi tanpa judul

Kain menutup seluruh tubuh
tersingkap sedikit
menyisakan getar pada kulit tipis berpeluk debu
mengggil sebentar
inginnya mengejar
meski tak mungkin tergenggam
berkelebatan bayang dalam sepoi sepoi
dingin membelenggu
cukup sudah
kembalikan kain dan jahitkan menjadi batu

Masa SD ...

Dulu, aku termasuk murid yang paling lambat
lambat menangkap materi pelajaran, apalagi pelajaran matematika, dua kali seminggu rutin mengadakan ulangan, yang nilainya tinggi bebas hukuman, dan nilai yang rendah, push up dan skort jam pun harus dijalani. kerap kali mendapat angka nol dalam berhitung, sering pula aku menerima sanksi dari ibu kepala sekolah Ida Sutrisno (semoga sehat selalu Bu), aku dan beberapa teman yang termasuk kategori selalu gagal menaikkan angka nilai ujian, berdiri berbaris di depan kelas. Ibu kepala sekolah pun untuk kesekian kalinya memberi wejangan bijaknya kepada kami. sampai perkataannya berhujung selesai, ibu ida pun menghampiri kami satu persatu. bukan untuk mengusap kepala kami, tapi mencubit dada dan menjewer telinga kami. sembari berbisik,"makanya, jangan sering main, belajar giat di rumah ya," pesannya.
tiada kata tangis saat itu, malah kami cekikikan saling menanyakan rasa sakit yang kita rasakan. ada yang bilang kayak digigit semut, ada yang kepanasan sampai gosong, ada yang merasa gelitik, bahkan ada yang berkata kalau jeweran bu Ida tidak sakit, tapi telinganya malah ngerasa tambah panjang (hai busiri, 12 tahun sudah kau menghilang). yah, aku mengalami hal itu saat aku baru bisa membaca di bangku kelas 3 SD. Kelambananku membaca cukup parah, tapi sebelum memakai seragam merah putih, aku sudah mahir menulis dan menggambar. karena ayah selalu menuntun jemariku di atas lembaran kosong, dan meniru apa saja yang ku lihat. Gambar bebek bertelur adalah oretan pertama keberhasilanku di buku gambar. ada dua bebek, yang satu punya ayah dan satunya buatanku.
saat pembagian raport hasil prestasi kelasku yang setiap tahun ada tiga cawu, dan tiga kali pengambilan oleh wali murid ini, membuatku tak sabaran. aku hanya ingin tahu angka rangkingku. saat itu, cuman terdapat peringkat satu sampai sepuluh. dan untuk kedua kalinya aku mendapat angka satu dan nol menyatu. aku tetap sumringah, karena bagi kedua orang tuaku akan sekedar melihat prestasi nilai agama saja. dan aku aman, angka enam sampai sembilan tetap memenuhi kolom pelajaran agamaku, yakni pelajaran akidah akhlak, bahasa arab, fiqih, tarikh (Sejarah), al quran hadist. bagi ortuku, sekolah itu penting tapi lebih penting kamu bisa mengaji dan mengetahui agamamu.
semakin anjloknya nilaiku, semakin giat pulalah ortuku membujuk untuk mengikuti les privat. padahal, inisiatif ini datang dari seorang ibu Guru yang selalu membawa payung ditiap berangkat ke sekolah, agar sengat matahari tak lunturkan hiasan bedak, gincu wajahnya. aku pun menuruti permintaan ayah dan ibu. seminggu dua kali, kini rumahku tiap jam 3 sore guru privat mengunjungiku untuk mendidikku.

diantara teman perempuanku,
Sejak aku mendapat pinjaman komik seri cardcapture sakura

Demi siapa...???

Semburat cahaya kekuning-kuningan perlahan mulai memancar, aura kilau cahayanya siap membujuk para pemilik jiwa lelah yang melama terlelap di balik kekegelapan kelam. Ayam jago turut membantu, dengan suara kokok meramaikan gendang kuping. Pukul 05.00 WIB, Kijang ayah telah siap dikendarai. Bersama bunda, kak Mahar bertiga akan menyeberangi pulau garam. Bagasi belakang jok mobil telah dipenuhi tumpukan barang bawaan "Ajang balasan" ke pihak lelaki. Pakaian koko, kopyah, sarung, buah-buahan, dan aneka cake siap disajikan sebagai seserahan.
Bunda bersolek cantik, anggun dan sederhana. Ayah dan kakak memakai kopyah putih.
"Pakai kopyah, biar sopan," tutur bunda.
Karena satu alasan lagi pake kopyah ibarat keharusan bagi keluarga terhormat, terutama keturunan madura. mayoritas, pemeluknya tergolong agamis. well, what can I say???
Dirasa barang bawaan udah komplit, ayah dan bunda siap berangkat.
untuk siapa???
"Benar, gak mau ikut?" ulang bunda menanyaiku.
"Pagi ini aku harus ke sekolah bunda," tuturku. dan bunda pun senyum memaklumi.
"Hati-hati kalo pulang, jangan banter-banter kalo sepeda'an, jangan lupa baca salawat" pesan bunda mengingatkanku. aku mengangguk iya.
Perlahan mobil yang mereka tumpangi hilang menjejaki arah jalan. Hm, dari kemarin hari bunda memang memintaku untuk ikut ke acara balasan pinangannya sepupuku ke pihak lelaki. entah kebetulan, disengaja atau tidak, aku memang memilih untuk tidak ikut.karena yah, pas bebarengan dengan aktivitasku. namun, mungkin ada untungnya juga saat kudengar kak Aab saudara ketigaku berujar,
"Bilang aja kalau takut kena sindiran," dahiku bekernyit.
"Egp...biarin aja," ceplosku ngasal.
"Kasiaan nur, baru aja kuliah, eh gak taunya dilamar orang, trus bentar lagi mau nikah," kak Aab mengomentari realita kisah gadis bernama "Nur". dia adalah anak perempuan dari adik ibuku. baru saja memasuki masa sweet seventeen.
"Yah, kalu sudah takdirnya mau diapakan lagi kak?" sahutku.
"Dek, nasib itu bisa dirubah kalau selagi kita bisa mengubahnya," balasnya.
"Tapi kalau gak bisa dirubah, mau diapakan lagi kak, terkadang saat kita menerima takdir dan yakin bisa menjalaninya dengan arif, apa salahnya, toh buat kebaikan mereka sendiri" jelasku.
"Menurut kamu keluarga bibi seperti itu pula," tatapannya mengamatiku.
"Semoga saja gitu kak, lagian kondisi Nur kan udah kayak gitu," dia manggut-manggut berharap pula.
"Lagi pula hidup ini amanah kak, sgala sesuatu akan diminta pertanggung jawabannya," tukasku menambah.
"Waduhh...tumben bijak, gak kayak biasanya," tangan kanannya mengelus kain biru yang menutupi rambutku. di sore lima hari lalu ini, percakapan kakak beradik ini akan ku ingat.

***
Matahari pun terbenam, sekitar pukul 18.15 WIB ba'da maghrib.
ayah dan bunda telah kembali dari madura. seusai sholat, dengan pakaian daster bunda, ayah, aku, adikku Layla duduk berlesehan di ruang keluarga. kami menyantap hidangan gule kambing, sisa daging kurban yang sudah di freezer. tak lama kemudian, bunda memulai cerita...
"Tadi, Nur dikasih uang sama tunangannya, trus kerabat-kerabat mertuanya pada ngasih uang," aku dan adik hanya tersungging tak berucap.Bunda banyak bercerita tentang "Nur", yang katanya si prianya sudah mapan, udah kerja di Jakarta, lalu bla-bla...sgala cerita menggiurkan tentang seluk beluk calon suaminya Nur membuatku terperangah. bukan terkesima atau apalah, entah ini picik atau tidak, aku beranggap merubah nasib, tapi terjebak dalam kubang pemikiran sempit yang memaksa naluri untuk memberi keputusan. saat kurekam perkataan Bu lek...
"Anak perempuan kalo sudah berumur itu, seharusnya cepet-cepet dinikahkan, sekolah tinggi-tinggi, ya urusannya tetap dia berkewajiban jadi ibu rumah tangga," papar bu lek tempo hari, saat berkunjug hari raya kurban ke rumahku.
tapi Egp lah...
sebulan ini aku mendapati kabar, tiga sepupuku yang masih abg berubah status dadakan,
"Nur" 17 tahun baru dipinang keluarga tajir pengusaha besi tua yang kini tinggal d jakarta,
"Fatma" telah menikah dengan kondisi "kontoversi", gadis berusia 16 tahun ini nekat tak kuasa menginginkan hidup bersama lelaki tiga anak, dan masih memiliki istri pertama.entah, kemana sanubarinya menjelajah, ia tak peduli lagi dengan permohonan ortunya, yang mengasihinya agar niat itu diurungkan saja. tapi, Fatma ngotot. akhirnya, kini dia resmi menjadi istri kedua lelaki yang katanya borjuis nan berangkatan pol. tragisnya, setelah menikah ayah Fatma mengusirnya jauh agar tak perlu kembali ke rumah.Astaghfirullah... akankah restu itu sampai???
"Ulfa" minggu kemarin pun telah duduk dipelaminan. sama-sama suka, saling mencintai, komitmen dia dan pacarnya memilih untuk berijab kabul saja. daripada menjadi fitnah berkepanjangan. setelah perbuatan Ulfa yang sempat geger, membuat shock neneknya, oleh pamanku dititahkan untuk segera menikah. pasca bercerai ortunya, ia tinggal bersama ibu ayahnya di Surabaya.Ramadan kemarin, hampir dua minggu dia tiba-tiba kabur dari rumahnya. pencarian pun dilakukan, walhasil ternyata dia tinggal satu kontrakan bersama cowoknya. Seluruh keluarga marah dan malu...
Ketiga gadis inilah, bunda membagi cerita dengan aku dan adik. meskipun bunda tak menjelaskan maksud kisah ini, tapi aku mengerti. dan aku bersyukur, bunda mulai bisa membaca keadaan. karena bunda mempercayai kedua mutiara indahnya itu. maka, sebagai anak kita wajib menjaga kepercaayaan itu. agar titipan sang ilahi senantiasa selamat dari segala bisikan penghuni kegelapan.
Bintang-bintang di langit berkelip indah bertaburan. tubuh pun mulai terasa meringkih ingin berebahan. pukul 22.00 Wib, selojoran di atas ranjang, sebelum terpejam, ku ingin mengucapkan selamat dulu buat Nur atas pertunangannya. selang jam kemudian, hp ku berbunyi, satu pesan balasan masuk.
open...
from: Dulur Nur
081xxxxxx

makasih mbak...
sebelumnya aku minta maaf ya mbak...
pas aku dilamar, jujur aku ngerasa punya salah banget ama pean...

aku sontak tertawa. lalu aku reply.

ngapain minta maaf dek...
kalo udah waktunya, mau di apakan lagi...
udah, dijalani saja...
sepertinya ini memang waktu mu untuk memulai hidup baru...
selamat yah...!!!

send.

Nur membalas lagi.

entahlah mbak, aku pasrah saja.
habis ini, aku berhenti kuliah.
mungkin dengan ini, aku bisa meringankan beban umi dan kak Ali yang udah membiayai hidupku. dengan ini, mungkin aku bisa membalasnya sebagai anak yang ingin membahagiakan keluarganya.

Kusudahi sms itu. tak membalasnya.
kalo pun ingin membalas, ingin sekali ku bertanya kepada Nur, "Apakah kamu sendiri bahagia menjalani semua ini???"
Fatma dan Ulfa menikah, karena alasan cinta. demi cinta mati untuk lelaki mereka.
Lalu Nur,,,,