Masa SD ...

Dulu, aku termasuk murid yang paling lambat
lambat menangkap materi pelajaran, apalagi pelajaran matematika, dua kali seminggu rutin mengadakan ulangan, yang nilainya tinggi bebas hukuman, dan nilai yang rendah, push up dan skort jam pun harus dijalani. kerap kali mendapat angka nol dalam berhitung, sering pula aku menerima sanksi dari ibu kepala sekolah Ida Sutrisno (semoga sehat selalu Bu), aku dan beberapa teman yang termasuk kategori selalu gagal menaikkan angka nilai ujian, berdiri berbaris di depan kelas. Ibu kepala sekolah pun untuk kesekian kalinya memberi wejangan bijaknya kepada kami. sampai perkataannya berhujung selesai, ibu ida pun menghampiri kami satu persatu. bukan untuk mengusap kepala kami, tapi mencubit dada dan menjewer telinga kami. sembari berbisik,"makanya, jangan sering main, belajar giat di rumah ya," pesannya.
tiada kata tangis saat itu, malah kami cekikikan saling menanyakan rasa sakit yang kita rasakan. ada yang bilang kayak digigit semut, ada yang kepanasan sampai gosong, ada yang merasa gelitik, bahkan ada yang berkata kalau jeweran bu Ida tidak sakit, tapi telinganya malah ngerasa tambah panjang (hai busiri, 12 tahun sudah kau menghilang). yah, aku mengalami hal itu saat aku baru bisa membaca di bangku kelas 3 SD. Kelambananku membaca cukup parah, tapi sebelum memakai seragam merah putih, aku sudah mahir menulis dan menggambar. karena ayah selalu menuntun jemariku di atas lembaran kosong, dan meniru apa saja yang ku lihat. Gambar bebek bertelur adalah oretan pertama keberhasilanku di buku gambar. ada dua bebek, yang satu punya ayah dan satunya buatanku.
saat pembagian raport hasil prestasi kelasku yang setiap tahun ada tiga cawu, dan tiga kali pengambilan oleh wali murid ini, membuatku tak sabaran. aku hanya ingin tahu angka rangkingku. saat itu, cuman terdapat peringkat satu sampai sepuluh. dan untuk kedua kalinya aku mendapat angka satu dan nol menyatu. aku tetap sumringah, karena bagi kedua orang tuaku akan sekedar melihat prestasi nilai agama saja. dan aku aman, angka enam sampai sembilan tetap memenuhi kolom pelajaran agamaku, yakni pelajaran akidah akhlak, bahasa arab, fiqih, tarikh (Sejarah), al quran hadist. bagi ortuku, sekolah itu penting tapi lebih penting kamu bisa mengaji dan mengetahui agamamu.
semakin anjloknya nilaiku, semakin giat pulalah ortuku membujuk untuk mengikuti les privat. padahal, inisiatif ini datang dari seorang ibu Guru yang selalu membawa payung ditiap berangkat ke sekolah, agar sengat matahari tak lunturkan hiasan bedak, gincu wajahnya. aku pun menuruti permintaan ayah dan ibu. seminggu dua kali, kini rumahku tiap jam 3 sore guru privat mengunjungiku untuk mendidikku.

diantara teman perempuanku,
Sejak aku mendapat pinjaman komik seri cardcapture sakura

1 komentar: