Janji Setia Episode 2

Di lantai empat kantor redaksi, gedung Potret.
Aku sungguh tidak menyangka, baru enam bulan seusai wisuda. Kesempatan bekerja pun menghampiriku. Padahal, baru pertama kali menaruh surat lamaran kerja di institusi sebuah pers terkenal. Menjalani sgala tahap test seleksi, akhirnya aku lolos jadi fotografer. Cihuy, senangnya hatiku. Namaku Alisa Fitri Maharani. Biasa dipanggil Pipit atau Rani atau terserah sesuka hati.
Setelah kemarin Potret menerimaku. Hari ini pulalah aku langsung bekerja. Jadi, jam Sembilan pagi, aku must ontime, karena ada rapat pembahasan tema edisi selanjutnya. Setiba di kantor, seketika aku langsung bergabung dengan kru lainnya. Beruntung, aku tepat waktu. Tapi, rapat redaksi belum dimulai. Kebetulan, posisi kursiku bersebelahan dengan Sekar.
“Pagi mbak,” sapaku menyuguhi ukiran bibirku.
“Pagi juga,” balasnya tanpa memandangku. Kerenyut dahiku menekuk. Memang bukan hal mudah, untuk memulai aktivitas hari pertama di kantor. Mulai dari beradaptasi dengan seluruh kru, karyawan dan manusia yang ada di sekitar gedung berlantai delapan ini. Tak perlu bertanya identitas. Id card telah terpasang di sebelah dada kiri dengan pakaian berwarna hitam pada tiap karyawan. Kebetulan, aku belum mendapat seragam. Jadi, meski agak canggung tapi aku mencoba bersikap sok akrab, dan memaksa diri tuk berbaur.
Kami duduk mengitari meja elips terbuat bahan campuran batu marmer dan pualam, berwarna biru putih. Para pemburu kejadian pun telah memenuhi kursi masing-masing. Tampang mereka memang sangat responsible dan menyimpan ability kuat. Aura journalist mereka sungguh ketara. Seiring bergulirnya masa, pasti mereka sudah tahan banting menjalani profesi sebagai jurnalis dan  fotografer. Yang kerjanya bergelut dengan bermacam peristiwa kehidupan di luar. Apalagi wartawan, kudu siap wara wiri mengejar bermacam bentuk tipologi narasumber, yang kadang keukeh sulit untuk dimintai keterangan. Tak peduli dicibir, diacuhkan, terpenting saat penyetoran berita, kevalidan data telah tersusun berupa kalimat paragraph.
“Selamat pagi semuanya,” suara seorang gadis berambut panjang hitam lurus sebahu memakai syal merah itu telah hadir menduduki kursi paling khusus diantara kru. Dan para insan yang berjumlah sekitar 15 orang termasuk aku serempak membalas salamnya “selamat pagi juga”, kepada gadis bernama lengkap Eva Maya Wulandari.
“Loh, mana kak Abdi, kok kamu duduki tempatnya kakak?” Sekar langsung menyerobot tanpa ikutan salam dengan kru. Intaian mata pun menuju ke arah gadis berkulit kuning langsat itu.
“Sebelumnya, saya ingin menyampaikan bahwa mas Abdi lagi ada halangan dia lagi ngeliput ke luar kota, jadi kalian semua ada titipan salam maaf darinya dan rapat kali ini, lagi-lagi saya dipercayai untuk menghandle rapat ini, terima kasih” Maya mengakhiri ucapannya.
Kulirik Sekar manyun, kayak sensi banget dengan wanita yang menempati kursi Abdi, abangnya. Acara penentuan tema pun dimulai. Beragam usulan judul bersahutan dari pribadi para kru. Semuanya berdasarkan pengalaman dan realita. Ada yang ingin mengungkap kasus prostitusi remaja, perdagangan anak (trafficking), merebaknya video mesum, semarak lokalisasi, bahkan ada masukan tema yang ingin menguak tentang kritik kinerja pemerintahan pada saat ini. Hm, lumayan berbobot. Sekaligus lebih menantang. Masing-masing mereka menjelaskan maksud dari tema yang diajukan. Jika ditemui ada satu hal menarik yang perlu ditelusuri, maka semua harus sepakat untuk menggarapnya.
“Ada yang lain?” suara Maya membuatku menatapnya dengan senyum.
“Pipit?” aku glagapan namaku disebut.
“Punya usulan tema?” Tanya perempuan bermata sayu itu. Tanpa babibu. Aku mengiyakan.
“Tentang kasus penculikan, mbak” ujarku ngasal. Entah, mengapa lidahku ingin mengeluarkan kata-kata itu. Padahal aku hanya sekedar mengingat judul hotnews berita pada salah satu koran yang kubaca tadi pagi. Akibatnya pun sekarang seluruh bola hitam putih manusia di ruangan itu mengekoriku. Seakan waktu tiba-tiba tak bergerak, dan para jiwa pun mematung. Mungkin usulanku terdengar konyol, aku pun hanya melebarkan bibirku.
“Maaf jika temaku agak kurang menarik,” timpalku menyelamatkan diri.
Tapi, Maya menampakkan ekspresi lain. Dia menyuguhiku dengan senyuman, kupikir hal itu penunjuk baik.
“Boleh juga usulmu Pit, apa alasanmu ingin mengusung tema itu?”
“Sebenarnya sih, aku hanya sekedar bilang aja, jadi alasannya aku gak tahu, napa aku bisa langsung ngomong gitu, hm, mungkin ini efek baca berita hari ini mbak, jadi kebawa deh?” selorohku datar.
“Maksudmu tentang misteri peristiwa 4 tahun hilangnya model cantik Lorensia Stefanny,” kepalaku angguk, membenarkan.
“Kebetulan juga tadi aku sempat membaca beritanya di koran, hari ini adalah hari peristiwa dimana Stefanny tiba-tiba lenyap pacsa show di taman anggrek Jakarta” sahut salah satu kru lain.
Kepala Maya bergerak mengamati Andika Purnomo, pemilik suara barusan ialah cowok berkaos dagadu hitam dengan rambut hitam cepak, berpiawakan tubuh gemar atlet, nampak dada rampingny terbungkus mengekar.
“Meski aku baru 2 tahun bergabung disini, peristiwa raibnya beberapa gadis yang terkenal itu sampai sekarang belum diketahui keberadaan nasib mereka, polisi pun sempat kewalahan mencari jejak si pelaku, hingga kini tak ada yang tahu motif apa sebenarnya yang terjadi dibalik kejadian ini,” jelas pria berusia 27 tahun itu.
“Kamu benar Dika, kejadian itu memang membingungkan banyak khalayak apalagi pihak tertentu, terlebih hingga sekarang orangnya belum  ditemukan, entah dia masih hidup atau sudah mati, tak ada yang bisa memastikan, apakah itu kasus penculikan atau….” Sekar yang langsung melanjutkan arah pembicaraan Andika barusan, ia menggantung perkataannya sambil melirik ke Maya.
“Atau pembunuhan,” ucapnya dengan intonasi ditekan. Layaknya kata itu ditujukan untuk seseorang. Sekar mengekor dengan sorot ketegasan. Dengan duduk berjarak dua meteran, Maya segera membuang muka, seakan ia tak mau ada yang terbaca dari sirat kedua matanya.
“Kalau begitu, kita voting aja,” tukas Maya tak mau berpanjang lebar.
Dari ke 15 orang yang menghadiri rapat. Hanya Sembilan acungan tangan yang menyepakati. Aku pun jua.
“Baiklah, kita deal kan untuk mengambil tema ini untuk dijadikan rubrik kista (kisah dalam peristiwa), untuk rubrik lainnya kita bahas lagi setelah istirahat nanti,”ujar Maya, sembari menulis catatan di laptopnya.
“Silahkan break dulu, setengah jam lagi kita teruskan kembali rapat ini,” lanjut Maya mempersilahkan para kru bubar ruangan. Sebelum beranjak, aku pun mengeluarkan benda note book dengan layar 11 inc. lalu mencatat hasil rapat yang barusan diulas tadi. Kulirik sekilas, Andika dipanggil Maya, cowok jangkung itu pun membuntuti ke ruang kantor cewek kelahiran 1979 tersebut. Pasti mau membahas tentang tema tadi.
“Pit!” tepukan Sekar mengagetkan pundak kananku.
“Eh mbak Sekar, ada apa ya?” tanyaku sontak.
“Temani aku ke kantin yuk!” tanpa menolak. Aku langsung menerima ajakannya. Heranku, ternyata mbak Sekar gak terlalu jaim-jaim amat. 
Sesampai di kantin Moro Kenyang.
Aku dan sekar tengah menikmati hidangan soto banjar dengan kuahnya yang putih, dilengkapi suwiran daging ayam, plus irisan telur ayam rebus mengenyangkan. Pelepas dahaga jus alpukat semakin menambah kelengkapan menu pagi itu. Di sela-sela menyantap, kami selengi dengan obrolan berkaitan rapat dua jam lalu.
“Tak seharusnya kamu mengusulkan peristiwa itu,” tegur Sekar membuatku terperanjat. Whats wrong? Pikirku.
“Maaf mbak, aku keceplosan gak sengaja,” sahutku.
“Tapi tak apalah, dengan menginvestigasi peristiwa ini siapa tahu kita bisa membantunya untuk membongkar si pelaku,”
“Maksud –nya itu untuk siapa mbak?”
“Kudengar, Stefanny adalah kekasih kakaknya maya,” hm, aku terhenyak sejenak. Pantesan raut Maya nampak sedu tadi.
“Dan hingga saat ini, kakaknya masih mengangggap Stefanny masih hidup, sejak kekasihnya menghilang, dia selalu mengurung diri di kamarnya dan tak mau berhenti melukis wajah Fanny,” jelas Sekar.
“Kasihan banget ya mbak,” tanggapku.
“Ya begitulah, saat aku melihat langsung kondisi kak Radit, aku jadi gak tega, secara aku juga punya kak Abdi” papar Sekar sambil menyeruput jus hijaunya.
“Tiga tahun lalu, tabloid kami juga sempat menelusuri kasus ini, itu pun karena permintaan dari polres yang meminta beberapa media turut membantu, salah satunya Potret,” lanjut sekar.
“Tapi, kenapa sikap mbak kayak ketus gitu ama Maya?” tanyaku.
Sekar nyengir.
“Yah, aku BT aja pas tahu kalau dia udah pacaran ama kak Abdi, jadi tiap kali dia mengusulkan tema, selalu saja kakak mengiyakan, jadi jangan kaget kalau aku kerap nyerocos saat rapat” tandas Sekar. Membuat bibirku melebar.
“Ya udahlah, gak usah ngomongin dia, ntar jadi gak mood makannya,”
“Jangan gitulah mbak sama calon ipar sendiri,” kelakarku. Sekar hanya geleng-geleng kepala.
Dan kami berdua melanjutkan aktivitas makan. Sembari menyisip kuah soto, otakku tak henti berselancar, kini semua baru jelas. Kenapa kasus ini begitu menarik? Dan aku baru tahu jawabannya.
###
Malam telah menampakkan gurat gelap. Pekat hitam menyelimuti sebagian atmosfir bumi.
Diruang luas 10 x 8 m, seorang gadis mengamati bongkahan es panjang sekitar tiga meter. Dengan posisi tidur, bola matanya yang nampak sedan namun tak menentu tengah menatap dalam balok es itu. Kedua tangannya yang terbungkus sarung tangan putih perlahan meraba dan mengelus penuh arti di sekitar ujung paling atas es.
“Selamat malam Tulip,” sapanya menatap bongkahan es panjang itu. Biasanya jika ada ucapan salam, pasti ada balasan. Namun, ini tidak, keadaan masih tetap hening. Gadis berambut panjang itu menunjukkan senyum sumringah.
“Aku tahu kamu lebih senang di sini, karena disini kita keluarga yang tak bisa terpisahkan,” ungkapnya. Wajah gadis berkulit putih ini semakin mendekat pada benda cair yang berwujud padat itu.
“Terutama aku, sampai kapan pun kita akan selalu bersama” ujarnya tiba-tiba seketika memeluk benda dingin itu. Tanpa peduli suhu es yang bisa mengigilkan tubuhnya. Namun tak lama kemudian ia melepaskan dekapannya. Lalu beranjak, ke kotak lemari pendingin yang lain, ia buka semua sekitar tiga pintu. Isi sama, balok panjang es tiga meter.
“Ketahuilah aku sayang banget ama kalian, jadi kalian harus temani aku,” paparnya seakan berbicara pada dirinya sendiri. Tapi, pandangannya tak mau enyah dari keempat balok tersebut. ada sesuatu tak biasa, meski tiap kali berbicara tak ada sahutan di ruang, ia merasa tak sendiri. ada jalinan komunikasi, antara dia dengan kebekuan es balok itu.
“Hari sudah malam, kalian istirahat ya,” tanpa menunggu, gadis yang memakai kain sutera panjang melilit di lehernya itu segera menutup kembali pintu lemari. Dirasa sudah merapatkan kembali pintu berbahan besi karet itu, ia melangkahkan kaki menuju pintu keluar. Tapi, kepalanya menoleh ke belakang, ia merasa berat hati. Akhirnya dia berbalik lagi.
“Biar kalian tidur pulas, aku akan menyanyikan lagu untuk kalian,” tawarnya, lalu mencari tempat duduk yang nyaman, sekalian bersandar di sebuah kursi bergoyang terbuat kayu.
Lihat tamanku penuh dengan bunga
Ada perinya dan ada putrinya
Setiap hari kita menyanyi
Agar sang puteri selalu tertawa


Lantunan gadis itu benar-benar membuat suasana mencekam. Kata-kata lihat kebunku, diubahnya spontan. Angin malam masuk dari celah-celah balik tembok pun menerpa rambut hitamnya. Dan sesuatu tak terlihat tanpa permisi turut meramaikan nyanyian gadis tersebut, iya jiwa-jiwa yang tak lagi berpenghuni mulai berkelebatan menari-nari di ruang itu, namun mereka seakan ingin mengatakan sesuatu, tapi sayang suara mereka tak bisa didengar oleh siapa pun, kecuali gadis itu. Terlihat malah khusyu bersenandung. Sepertinya gadis itu mendengar, tapi ia malah tak peduli akan jeritan mereka. Karena ia menyukai bisikan itu, suara-suara yang tak pernah diberi ampun.  
###
Pukul 09.00 WIB
Papan whiteboard telah dipenuhi coretan tulisan spidol boardmaker. Sesekali ruas kelima tangan kanan Andika memainkan benda panjang seukuran satu depa, yang bisa mengeluarkan cairan hitam itu. Lalu menyusun huruf “Laura Hasti”, selayang pandang Andika kembali menatap keempat orang yang tengah duduk di kursi. Hampir sejam, konsentrasi mereka terpacu pada pembahasan terkait rapat tema kemarin. Sesuai kesepakatan, kasus ini diserahkan kepada kami berlima, aku, Sekar, Andika, Nindy dan Joni.
“Nama siapa tuh dik?” tanyaku.
 “Semalam aku dapat info dari teman persku, Laura Hasti adalah salah satu teman akrab Stefanny semasa kecil waktu di sekolah dulu, dan dia bukan artis melainkan designer, pastinya kalian semua tahu kan merk rancangannya?”
Aku menggeleng. Karena tidak tahu.
“Laura Collection, hasil rancangannya memang banyak diminati oleh kalangan artis, maupun entrepreneur, karena fashion yang ia tunjukkan selalu up to date” sahut Nindy, rekan timku.
"Tapi, apakah dia mau dimintai keterangan?" tanyaku.
"Kita coba saja, yah minimal kita harus mengetahui seberapa dekat dia dengan Stefanny," jawab Andika
“Kebetulan dia besok tiba dari Singapura, jadi kita bisa jadikan dia sebagai salah satu narasumber terkait dengan raibnya Stefanny,” lanjut Andika.
“Boleh juga, kira-kira kapan pesawatnya take in?” tanya Sekar.
“Diperkirakan jam delapan malam di bandara ,” jawab cowok kelahiran Madiun.
“Oke, so besok kita stand by jam enam malam,” kata Sekar. Dan kami berlima pun mengakhiri rapat pagi ini.
###
Bersambung....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar