Sebuah koran harian pagi Surabaya pada tahun 1990, memuat berita headline menghebohkan, terutama bagi penghuni di panti asuhan purnama pelangi, di jalan Lasem 44. Judul besar terpampang di halaman pertama newspaper MoMeNt, “Api Melalap Purnama Pelangi, Satu Tewas”
dan pada lead pertama;
Berawal tercium bau sengat, lalu tiba-tiba percikan kilat menyembur berasal dari meteran listrik, seketika membesar hingga merambat ke aliran lainnya. Lalai, tak langsung padamkan, kobaran merah pun menghabisi bangunan tua hijau milik Ibu Lastri Purnama.
Sejak peristiwa menakutkan itu, pengelola yayasan panti asuhan purnama Pelangi, memilih merelokasi ke tempat baru. Mengingat, bangunan tua yang berdiri 1970 itu telah mengalami kerusakan total dan meninggalkan trauma mendalam bagi 200 wajah-wajah polos tak berdosa. Kayu-kayu cokelat penyangga yang mengokohkan 20 kamar para peri kecil telah berubah hitam, genteng-genteng atap pelindung sengatan panas dan air langit pun sudah kembali berabu. Mainan ayunan, selancaran dan lainnya pun juga menghilang, tapi pantas saja benda-benda itu bergegas menyelamatkan diri, dengan cara mencairkan kesatuannya yang melekat, meleleh dan menetes satu persatu. Dan semuanya jadi debu lapuk, lalu tertiup angin tak menyisakan, dan tak berguna lagi. Namun, kenangan di dalam panti ini tak kan memudar. Tangisan, senyuman, ocehan dan berbagai peristiwa telah tertoreh dalam catatan sejarah cerita tentang mereka para penghuni Purnama Pelangi. Namun, bertahun-tahun mengubur sebuah kisah yang terlupakan. Hingga kini, tak satupun mencari tahu.
###
15 tahun kemudian…
Di kantor Potret salah satu media cetak dwiminggu terkenal di Surabaya, tepatnya di lantai 6 tengah dipadati oleh para pendaftar calon fotographer, ada sekitar 30 orang yang mengirim surat lamaran kerja ke office redaksi. Setelah hampir dua bulan, majalah yang konsumennya dari kalangan menengah dan ke atas ini telah mencantumkan pengumuman mencari “fotografer sejati” di beberapa edisi terbitan.
Para kandidat rata-rata berusia sekitar 20 tahun sedang menunggu di ruang tunggu, sesekali mereka melirik pintu yang tertempel tulisan “Ruang Interview”. Sembari menanti panggilan untuk tes wawancara, mayoritas mereka terdiri dari cowok dan beberapa cewek menyibukkan diri dengan melakukan hal-hal sesukanya. Agar tidak jenuh, ada yang memanfaatkan ponsel hpnya bermain game, ada yang FB-an, chatting-an, bahkan ada yang mendengarkan musik. Seperti cewek yang lagi nangkring berlesehan di dekat pintu para penguji, bukannya menguping. Earphone dikedua telinganya membuat dia asyik menggoyangkan kepala. Rambut panjangnya terkucir berantakan, dengan bersikap cuek, ia bebas mengekspresikan raut wajah di depan laptop 20 inci, tertawa meluapkan kekagumannya kepada koleksi foto-foto antik milik teman mayanya di balik layar monitor. Komentarpun dia utarakan dengan kata-kata sewenanya di box chat.
300 detik kemudian, tanpa disadari wanita bercelana jeans muncul dari belakangnya, membawa map biru didekapan, pena pun mulai digerakkan pada list daftar nama calon selanjutnya. Mengetahui siapa sosok yang akan di-interview. Bibir penuh polesan merah hati itu mulai menganga, dan….
“Alisha Fitri Maharani!” sebutnya. Mereka yang ada di waiting room pun saling bertukar pandang. Tak satu pun beranjak.
“Saudari Alisha Fitri Maharani!” ulangnya lagi. Tak ada sahutan.
“Mungkin gadis yang duduk di depan pintu interview mbak,” ucap seorang gadis berkacamata minus, sambil menunjuk ke arah gadis yang masih angguk-angguk kepala cuek bebek. Wanita yang bertugas men-callingearphone-nya lalu berdiri tegak. peserta fotografer menoleh ke balik punggungnya. Dahinya langsung berkerut. Bibirnya pun manyun menukik. Ia pun mempercepat langkah, mendekati gadis bersila itu. Lalu, ia menepuk pundak gadis tersebut. Refleks, gadis itu pun mendongak dan melepas
“Giliran saya ya mbak….?” Sejenak ia sipitkan kedua matanya mengamati cocard di dada hawa di depannya.
“Mbak Sekar,” akhirnya nama wanita itu terbaca.
“Nama anda Alisha Fitri Maharani?” nafasnya terhela.
Ia mengangguk tanpa innocent.
“Silahkan masuk,” tak mau bertele-tele. Wanita itu membukakan pintu. Dan Maharani pun membereskan laptopnya dan ia mengambil sesuatu dalam tasnya, topi kesayangan terbuat sulaman benang biru, ia pasangkan keatas kepala, meski cewek, gadis ini nampak tomboy. Bersamaan, keduanya masuk ke dalam. Keberuntungan tengah memilih, dari ke 20 peserta, hanya tiga yang akan menjadi fotografer tabloid Potret. Serangkaian tahap tes mulai mengikuti audisi tes interview, presentasi karya foto dan uji coba menghandle beragam jenis kamera, agar dewan juri bisa menemukan fotografer yang benar-benar memenuhi kriteria. Setelah babak penyeleksian, akhirnya terpilih dua laki-laki dan satu perempuan, yakni Alisha Fitri Maharani.
###
Ruangan kantor utama dewan redaksi milik Abdi Maulana terdengar riuh.
“Cewek udik itu kok bisa lolos seleksi sih kak, apa gak salah?”
“Dia terlihat potensial, Kar, jadi dia layak kerja di sini,”
Gadis bernama sekar itu merapatkan kedua tangan di dadanya. Merasa kesal duduk di depan meja kantor pria berusia 30 tahun ini.
“Tapi, mengapa harus satu part sama aku?,”
“Aku dah lihat hasil file picture-nya, style anggle foto yang dia ambil sama seperti milikmu, dan aku pikir kalian pasti nanti jadi partner klop,” merasa kalah berargumen. Ia pun mendesah. Dan terdiam.
“Lagian ini ini bukan hanya keputusan aku saja, kamu tahu kan pengujinya ada Maya, Daniel, jadi ini sudah hasil kesepakatan bersama,” lelaki itu berusaha memberi pengertian.
“Ajaklah dia bersamamu dulu, kalau pun dia tidak becus dan ternyata hasil kerjanya tak memuaskan, kamu boleh memberhetikannya,”
“Benar ya?” dan lelaki itu tersenyum mengangguk.
“Baik! dia akan jadi partnerku, sekaligus aku ingin tahu seberapa hebat kemampuannya,” ucapan sekar terdengar menantang.
###
Tahun 1988
Pukul 11.00 WIB hujan deras mengguyur tanah pertiwi, lampu kuning nampak temaram mencahayai lorong-lorong setiap bilik panti asuhan Purnama Pelangi. Empat wanita pengasuh dengan langkah gesit berpencar, mengitari area panti untuk memeriksa tiap sudut tempat. Apalagi air langit diam-diam menyusup di setiap atas genting, menjatuhkan sedikit-sedikit tiap tetesan Kristal cairnya. Lalu menembus basahi benda apapun dan menimpa para anak adam yang tengah terlelap. Namun, tak seorang pun mereka bangun akibat sentuhan air yang menggelembung usik pori-pori tubuh. Tetap saja, mereka melelapkan mata. Seakan terbiasa dengan kondisi seperti itu.
“Bu Ambar, tolong cepat bangunkan anak-anak di kamar hijau, suruh mereka pindah ke ruang tengah,” pinta bu Lastri, wanita pemilik mata bulat berusia 35 itu nampak tenang menghadapi situasi genting ini. Kebocoran memang sangat menganggu kenyamanan anak-anak asuhnya tatkala beraktivitas, kerentanan bangunan berlantai dua itu kerap terjadi, apalagi jika hujan turun. Air bisa merembes melepuhkan dinding-dinding fondasi, terkadang tanpa disadari lantai yang tak berkeramik pun tiba-tiba sudah membanjiri ruangan. Walau begitu, anak-anak masih kerasan. Bahkan, jika banjir dadakan melanda panti ini, anak-anak tetap sumringah bergotong royong menyelamatkan barang-barang dipanti, dan menguras sisa-sisa air hujan. Dan malam ini, semoga saja air hujan tak menggenangi rumah kami.
Perempuan bernama Ambar itu bergegas menuju kamar yang dimaksud. Dengan menenteng panci, baskom atau peralatan dapur lainnya ia selipkan sebisanya di tubuh. Yah, benda itu akan ditaruh disetiap tempat untuk menampung air rembesan. Sesampai dikamar hijau, ambar langsung mendekati ranjang kayu berjumlah empat dan bertingkat dua. Ranjang yang berukuran panjang 1,5 meter dan lebar 1 meter telah ditiduri oleh anak-anak panti. Saat hujan mengguyur, kamar hijau adalah kamar yang harus diselamatkan dulu, karena kamar itu rawan mudah terkena resapan air disela-sela ruang.
“Ayo bangun anak-anak…” seketika suara Ambar mengejutkan mereka semua. dan Ambar pun tengah sibuk memasang panci di bawah lantai. Wajah nan mungil itu terdiri dari tujuh anak. Kedua tangan mereka lekas mengucek kedua mata. Berusaha tersadar dari lamunan mimpi. Dan sebagian sudah berdiri tegak, sembari memeluk bantal guling dan selimut bergaris. Lalu jalan setengah sempoyongan keluar kamar. Raut wajah mereka nampak smerawutan, rambut pun acak-acakan.
“Mawar [1], cepat ajak saudara-saudara mu ke ruang tengah,” perintah ambar.
“Iya bunda,” Gadis jalan sempoyongan itu menoleh ke belakang, langkahnya kembali menarik gadis lainnya yang sudah sah menjadi saudara sejak kecil. Meski tak punya ikatan darah. Dirinya yang paling tua berusia 10 tahun harus bisa mengayomi saudara-saudara lainnya.
“Melati[2], Tulip[3], Lily[4], Kamelia[5], Violet[6], Anggreini[7],
bangun, kapal kita mau tenggelam, ” suara Mawar seketika membangkitkan rebahan anak-anak lainnya. Gadis kecil itu sengaja memakai kata “kapal kita mau tenggelam”, sebab dia tak mau membuat para saudaranya ikutan panik, mengetahui situasi yang nyata. Berbondong-bondong mereka keluar berjajar dari kamar hijau, meski ngantuk masih membebani, meski belum menyadari bahwa pakaian tidur mereka telah basah kuyup akibat tetesan air langit atap kamar. Kamelia dan Violet yang paling bontot bersedekap di balik punggung Anggreini dan Tulip, tangan mereka menyilangi leher kedua kakak besar mereka. Bu Ambar yang mengamati pemandangan itu, tersenyum bangga, kebersamaan mereka telah menyatu ibarat keluarga. Ketujuh bidadari kecil itu ditemukan bu Lastri di tempat yang berbeda sekaligus miris.
Seperti Kamelia dan Violet di hari yang sama, kedua hawa ini didapati bu Lastri berada di bawah pohon mahoni dekat terminal. Sedangkan Anggreini, Tulip, Mawar, Melati, Lily bernasib sama, tubuh onggok mereka terbungkus dalam kresek hitam, dan tergeletak di semak-semak rerimbunan pekarangan taman. Beruntung, nyawa mereka masih bernafas, hingga kini tawa canda mereka masih terdengar lepas membumbung ke udara, seakan ingin memberi tahu kepada dunia, bahwa mereka berkesempatan hidup, melihat dan menikmati indahnya anugerah Tuhan. Sengaja bu Lastri menempatkan mereka di komplek pelangi, berada di lantai bawah sesuai macam warna pelangi terdapat tujuh kamar, dan mereka menempati kamar hijau.
Ketujuh nama bunga yang diberi bu Lastri itu kini telah hijrah ke ruang tengah, tepatnya ruang bercerita. Tubuh mereka selojoran diatas sofa. Sekilas mirip ruang tamu, tapi tempat itu disulap untuk ajang sharing anak-anak panti. Setiap hari, setiap jam tujuh malam penghuni panti bergumul saling membagi kisah. Di panti tidak ada istilah teman, semuanya saudara. Jika ada masalah, konflik antar saudara di panti, diruang “cemara” inilah mereka sebut, solusi akan terselesaikan. Ditemani empat bunda pengasuh, bunda Lastri, bunda Ambar, bunda Rani dan bunda Hesti.
Hentakan air hujan masih terdengar mengalun keras, nampaknya awan hitam malam itu ingin menumpahkan cairan Kristal yang memenuhi tubuhnya. Entah di bagian tubuh sebelah mana, karena benda putih itu tampak bergumpal-gumpal melayang di udara, kadang menjelma beraneka bentuk sesukanya. Malam itu, penghuni di panti purnama pelangi kembali tertidur nyenyak, meski atap tempat tinggal mereka sebagian bocor, meski beberapa menit sempat terganggu dengan tetesan air hujan. Mereka tetap bisa melanjutkan mimpi-mimpi indah.
Hingga pagi pun menjemput, dan saat itu pula, saat mawar hendak membersihkan halaman taman depan panti, ia menjerit melengking, terkejut melihat keranjang kotak bergerak-gerak sendiri, dengan selimut putih bunga bermotif matahari tersenyum.
“Bunda………” teriaknya. Perlahan ia mendekati keranjang terbuat dari batangan kayu kecil, lalu dengan tangan gemetar, ia menyentuh kain penutupnya, dan dengan sekuat keberanian, Mawar pun mengangkat kain itu sepelan mungkin, takut kalau isinya menyeramkan. Dan saat selimut itu terangkat bebas. Mawar spontan menampakkan giginya, tertawa girang. Makhluk mungil nan menggemaskan itu tak menangis, malah dia tersenyum berbinar. Seakan memberi salam manis untuk Mawar.
“Bunda, Mawar nemuin adik baru lagi,” teriakan Mawar kali ini lebih kencang. Sembari menunggu para bunda keluar. Mawar tanpa ragu, segera mengambil bayi yang entah berapa lama tubuhnya terbaring di kelilingi tumbuhan-tumbuhan di taman.
“Hei, adik kecil, kamu jangan takut ya, kamu disini bakal baik-baik saja sama kakak?” Mawar mengobrol dengan bayi yang belum bisa bicara itu. Namun, bayi cantik itu mengeluarkan suara khasnya, tawa menggelitik. Hanya itu yang bisa ia lakukan untuk membalas perkataan Mawar. Selang menit kemudian, para bunda dan penghuni panti keluar berhamburan menghampiri Mawar yang telah menggendong si bayi. Semuanya melongo kaget.
“Subhanallah, dari mana kau temukan dia nak?” Bunda Lastri langsung memindahkan bayi itu ke dalam dekapannya. Dan anak-anak panti pun mengerumuni bunda Lastri, ingin melihat adik bayi.
“Mawar tadi mau memotong rumput, dan tiba-tiba sudah ada adik kecil ini dengan keranjang dan selimutnya,”
“Dia menangis?” Tanya bunda Hesti memeriksa kening si bayi, khawatir sakit. Mawar pun menggeleng.
“Rani dan Ambar, cepat kau amati sekitar sini, mungkin orang yang menaruh bayi ini belum jauh,” mendapat perintah Lastri, Bunda Rani dan Bunda Ambar langsung berlari keluar panti.
“Dia cantik ya kak?” ungkap Violet yang digendong Tulip, kepalanya mendongak-dongak, ingin mengetahui rupa si bayi.
“Iyalah dia kan cewek, Vio, sama kayak kamu,” sahut Tulip.
“Adik bayi di kasih nama apa ya bunda?” Tanya melati.
“Mungkin kalian punya usulan nama buat dia,” Bunda Lastri memandang ke arah Mawar. Gadis kecil yang menemukan bayi tersebut.
“Hm, gimana kalau namanya Mentari aja bunda, soalnya dia kan ditemukan di pagi hari,” sahut Mawar. Tanpa berpikir panjang, bunda Lastri mengangguk.
“Baiklah, sekarang kita punya keluarga baru lagi, namanya Mentari,” ucap bu Lastri mengumumkan kepada anak-anak panti yang tengah mengerumuninya. Seketika, semua bersorak “hore” serempak mereka diliputi perasaan bahagia.
“Hai Tari, selamat datang dirumah kami,” ungkap Mawar sambil mengelus pipi cempluk Mentari, kemudian sang bayi tertawa menggemas dan menggelitik telinga. Seakan ia juga ingin menyampaikan, bahwa dia turut senang dengan keluarga barunya.
# # #
[1] Bayi yang ditemukan oleh bu Lastri pada bulan Juni 1978 ini memiliki makna sebagai Bunga Simbol Kasih Sayang. Keanekaragaman warna bunga mawar seringkali mengungkapkan banyak arti. Merah: cinta, keberanian, penghargaan, kuning: kegembiraan, kebahagiaan, kebebasan, pink/peach: terima kasih, syukur, kekaguman, penghargaan dan simpati, putih: penghormatan, kesucian hati, kerahasiaan, pertunangan Merah & Putih: kebersamaan
[2] Bayi yang ditemukan oleh bu Lastri pada bulan Januari 1980 ini mengandung arti nama keramahan, kesuciaan, dan kepercayaan.
[3] Bayi yang ditemukan oleh bu Lastri pada bulan April 1982, Tulip melambangkan cinta yang sempurna. cinta sejati.
[4]Bayi yang ditemukan oleh bu Lastri pada bulan Agustus 1982, Lily berarti keinginan untuk memperbaiki hubungan, permohonan maaf.
[5] Bayi yang ditemukan oleh bu Lastri pada bulan Oktober 1985, Kamelia memiliki arti penghormatan, kecantikan, dan kesempurnaan.
[6] Bayi yang ditemukan oleh bu Lastri pada bulan Februari 1985 ini, nama bunga ini dilambangkan sebagai bunga penetralisir hubungan cinta yang nyaris berantakan.
[7]Bayi yang ditemukan oleh bu Lastri pada bulan Maret 1983, memiliki arti nama yang melambangkan kesungguhan hati untuk memberi kasih sayang yang tulus & abadi. Serta lambang cinta, kecantikan dan keindahan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar