Orionku....
Entah hari keberapa, aku tak lagi menghitungnya. Yang jelas, aku tak mampu untuk selalu baik baik saja. Aku tak bisa mengusirmu, karena sebenarnya engkau mengaliri darahku. Bagaimana mungkin aku akan membunuh bayangmu? Membunuhmu adalah juga kematianku.
Tidak ada yang lebih menyiksa selain kebenaran terpendam. Tapi, aku yakin kau tahu bagaimana perasaanku, seperti selalu kutuliskan dulu pada pesan pesanku untukmu. Ah, ingin tangan ini kembali merangkai kata untukmu, mengirimnya dengan segudang rindu yang kupupuk.
Dan hatiku menjerit, perih. Air mata pun menemani setiap kata yang tertuang. Aku pun teringat kata katamu dulu, ketika aku melabuhkan lelahku, betapa kau ingin terbang dan memelukku, menghentikan tangisku...Tapi, tidak kali ini. Kau tidak akan datang, aku harus menyimpan sisa sisa tangisku.
Orionku, elangku, ajari aku terbang. Sayapku gundul dan aku masih menanti di batas cakrawala. Hingga mentari jingga tenggelam, kau tak juga mendekat meski sekedar bayang. OH Sementara kerinduanku menenggelamkanku dalam kekosongan. Kadang aku ingin mencacimu, kadang ingin membunuhmu, tapi selalu ingin mengejarmu, memelukmu..untuk mengungkapkan yang tersisa, sebelum ajal menjemput.
Bukankah alasan itu juga yang membuat kita akhirnya sepakat bertemu? Setelah sekian lama kita saling menyayangi dalam kesemuan dunia cyber.
Ingatkah hari itu? Ingatkah minggu pagi itu? Ingatkah sepanjang jalan penuh sesak itu? Ingatkah toko buku tempatmu menunggu? Ingatkah kita main kucing kucingan di mall? Ingatkah kita berjabat tangan di tangga?
Lalu, kita minum bersama. Duduk berhadapan, dan kutangkap jelas sorot matamu yang sendu membuatku selalu merasakan betapa pengasihnya kamu. Dan mengalirlah banyak cerita. Sayang, masih kupakai topengku. Masih kusembunyikan banyak hal tentangku. Sedang kau telah banyak membuka kisahmu. Ah, betapa menyesalnya aku...andai kau mengerti.
aku sangat tahu, semua kesalahanku. Ketika aku mengakhiri sore itu. Hujan yang turun, keterburuanku meninggalkanmu... Aku tak lagi melihatmu, walau aku sangat ingin memelukmu. Entah, apa yang ada di otakku.
Orion, kini di sisa waktu yang masih kumiliki, aku telah mencoba segala cara menyampaikan maafku untukmu. Dan kau tetap menghilang Aku tahu tempat terakhir untuk mencarimu, tapi, aku tak punya keberanian untuk mengejarmu. Aku takut apa yang kulakukan malah akan melukaimu. jadi, terbanglah elangku Temukan kebahagiaanmu sendiri Meski tangis menemaniku sepanjang waktu, aku selalu belajar untuk membebaskanmu dari sangkar yang kubuat sendiri untukmu. Sangkar hatiku.
Maafkan aku Orion. Andai waktu masih mengijinkanku, aku hanya ingin menemukanmu, dan mati dipelukmu. Aku tak ingin mati seperti ini. Sudahlah, tak ada kekuatanku tuk meraihmu, mungkin ajal yang menang sebelum keberanian datang...sebelum aku melangkah.
Maaf.
Entah hari keberapa, aku tak lagi menghitungnya. Yang jelas, aku tak mampu untuk selalu baik baik saja. Aku tak bisa mengusirmu, karena sebenarnya engkau mengaliri darahku. Bagaimana mungkin aku akan membunuh bayangmu? Membunuhmu adalah juga kematianku.
Tidak ada yang lebih menyiksa selain kebenaran terpendam. Tapi, aku yakin kau tahu bagaimana perasaanku, seperti selalu kutuliskan dulu pada pesan pesanku untukmu. Ah, ingin tangan ini kembali merangkai kata untukmu, mengirimnya dengan segudang rindu yang kupupuk.
Dan hatiku menjerit, perih. Air mata pun menemani setiap kata yang tertuang. Aku pun teringat kata katamu dulu, ketika aku melabuhkan lelahku, betapa kau ingin terbang dan memelukku, menghentikan tangisku...Tapi, tidak kali ini. Kau tidak akan datang, aku harus menyimpan sisa sisa tangisku.
Orionku, elangku, ajari aku terbang. Sayapku gundul dan aku masih menanti di batas cakrawala. Hingga mentari jingga tenggelam, kau tak juga mendekat meski sekedar bayang. OH Sementara kerinduanku menenggelamkanku dalam kekosongan. Kadang aku ingin mencacimu, kadang ingin membunuhmu, tapi selalu ingin mengejarmu, memelukmu..untuk mengungkapkan yang tersisa, sebelum ajal menjemput.
Bukankah alasan itu juga yang membuat kita akhirnya sepakat bertemu? Setelah sekian lama kita saling menyayangi dalam kesemuan dunia cyber.
Ingatkah hari itu? Ingatkah minggu pagi itu? Ingatkah sepanjang jalan penuh sesak itu? Ingatkah toko buku tempatmu menunggu? Ingatkah kita main kucing kucingan di mall? Ingatkah kita berjabat tangan di tangga?
Lalu, kita minum bersama. Duduk berhadapan, dan kutangkap jelas sorot matamu yang sendu membuatku selalu merasakan betapa pengasihnya kamu. Dan mengalirlah banyak cerita. Sayang, masih kupakai topengku. Masih kusembunyikan banyak hal tentangku. Sedang kau telah banyak membuka kisahmu. Ah, betapa menyesalnya aku...andai kau mengerti.
aku sangat tahu, semua kesalahanku. Ketika aku mengakhiri sore itu. Hujan yang turun, keterburuanku meninggalkanmu... Aku tak lagi melihatmu, walau aku sangat ingin memelukmu. Entah, apa yang ada di otakku.
Orion, kini di sisa waktu yang masih kumiliki, aku telah mencoba segala cara menyampaikan maafku untukmu. Dan kau tetap menghilang Aku tahu tempat terakhir untuk mencarimu, tapi, aku tak punya keberanian untuk mengejarmu. Aku takut apa yang kulakukan malah akan melukaimu. jadi, terbanglah elangku Temukan kebahagiaanmu sendiri Meski tangis menemaniku sepanjang waktu, aku selalu belajar untuk membebaskanmu dari sangkar yang kubuat sendiri untukmu. Sangkar hatiku.
Maafkan aku Orion. Andai waktu masih mengijinkanku, aku hanya ingin menemukanmu, dan mati dipelukmu. Aku tak ingin mati seperti ini. Sudahlah, tak ada kekuatanku tuk meraihmu, mungkin ajal yang menang sebelum keberanian datang...sebelum aku melangkah.
Maaf.
Dariku,
Seseorang yang kau beri puisi tanpa judul
Seseorang yang kau beri puisi tanpa judul
Kain menutup seluruh tubuh
tersingkap sedikit
menyisakan getar pada kulit tipis berpeluk debu
tersingkap sedikit
menyisakan getar pada kulit tipis berpeluk debu
mengggil sebentar
inginnya mengejar
meski tak mungkin tergenggam
inginnya mengejar
meski tak mungkin tergenggam
berkelebatan bayang dalam sepoi sepoi
dingin membelenggu
cukup sudah
kembalikan kain dan jahitkan menjadi batu
dingin membelenggu
cukup sudah
kembalikan kain dan jahitkan menjadi batu

Tidak ada komentar:
Posting Komentar