Telah datang lagi masaku,,,
Ada dua rasa menghimpitku
Bahagia, aku masih bisa belajar bijak menyikapi hidup
Sedih, masih ada beban dan tanggung jawab yang akan kujalani
Karena, aku telah berjanji
Sepenuhnya nafasku hanya mengabdi pada-Nya
Dengan persembahan sisa usia dan segenap raga
Memberi manfaat kepada mereka
Mendampingi mereka yang tertatih
Dengan bekal titipan Tuhan yang terpercaya...
Karena kini aku mengerti...
Kita bisa meraih sesuatu
Bukan karena cita-cita
Melainkan karena kita "Yakin"
Terima kasih ya Allah...
Nikmat dan karunia-Mu sungguh Maha Luar Biasa
Sweet day
Rabu, 01 Juni 2011
Check out majelisrasulullah.org - Web Link
I want you to take a look at: majelisrasulullah.org - Web Link
Relung yang Berkata
Assalamualaikum...
(a)
Apa kabarnya cinta?
Semoga kau selalu terjaga dalam selimut rahmat-Nya
Meski aku tak tahu ada dimana kamu berada
(b)
Apa kabarnya cinta?
Aku sangat mengagumimu
Walau kisah yang kau torehkan kadang penuh luka dan suka
(c)
Apa kabarnya cinta?
Aku sangat merindukanmu
Tapi dayaku tak mampu merengkuhmu
Sebelum kau benar'' berjanji setia dan tulus
(d)
Apa kabarnya cinta?
Ada sesuatu yang akan ku ungkapkan kepadamu
Kata ini buat kamu "Terima kasih"
Kau mau menerima kelemahanku, kekuranganku
(e)
Apa kabarnya cinta?
Semoga kau kelak mendengar pesanku ini
Apapun yang menimpa
Percayalah, kita dipertemukan dan dipisahkan karena Tuhanku
Bukan karena benci, dendam, sakit hati dan amarah
Jika itu terjadi...
Betapa resahnya aku?
(f)
Apa kabarnya cinta?
Memang saat ini aku belum menemuimu
Lantaran jarak yang berliku tengah menguji kita
Agar kita lolos tuk bersabar
(g)
Apa kabarnya cinta?
Tahukah kau? aku masih sendiri dengan tegarku
Biarlah mereka duluan mereguk manisnya asmara
Dan aku... tak apalah...
Aku tetap tersenyum
Aku menikmatinya kok
(h)
Apa kabarnya cinta?
Ku disini
Kan selalu mendoakan kamu
Cinta yang suci nan abadi...
Wassalamualaikum
Salam cintaku
Lega
Lega...
itulah perasaan yang tergambar saat ini
Saat ranjau-ranjau itu mulai terlihat...
Meski tak pernah diketahui, bahwa kamu pandai menyimpannya dariku selama ini
Lega...
biar kau mencercau seenaknya
tanpa peduli pengaruh dan respon dari ujarku
Meski tak pernah diketahu, bahwa kamu dibelakang tengah bermain api
Lega...
Semuanya telah jelas
Ada maksud busuk yang kau sebarkan di halamanku
Meski tak sadar, bahwa kamu memang tak punya hati yang penuh kasih
Lega...
Aku tak akan lagi menangisi dirimu dan buaianmu yang palsu
Biar sempat ada kata 'cinta', tapi itu semua terhempas
Kala kau menebar cerita belaka yang tak pernah terjadi kepada mereka
Lega, sungguh aku lega...
Catatan Di penghujung Tahun
Catatan Di penghujung Tahun
Ini adalah cerita dari gadis yang berinisial “aku”, penulis akan memaparkan menurut cerita dari “aku”
Senin, 29 Dzuhijjah 1431 H.
Seusai lulus kuliah, aku di minta mengajar di sekolah dasar negeri kelas 2, berstatus sebagai guru kelas, jadi konsekuen harus menguasai seluruh mata pelajaran. Kecuali study agama dan English, ada guru khusus yang menghandle. Siang itu jam 12, dengan mengenakan seragam abu-abu, aku pulang mengajar. Sesampai di rumah, aku bersalaman dengan bunda, kucium tangan kanan itu penuh takdzim. Aku mengeluarkan jajanan yang kudapat dari wali murid “gethuk jowo”. Bentuknya panjang dan terbungkus daun pisang, lalu kedua ujung ditusuk dengan biting, berfungsi merapatkan isi gethuk, agar saat dikukus, bentuknya tidak berubah. Berbahan dasar dari singkong yang dihaluskan, bercampur dengan rangkaian pelengkap bahan dan penyedap rasa lainnya. Kresek merah yang berisi empat gethuk kuserahkan kepada bunda. Sambil saling membuka satu biji, kami berdua melahap kenyalnya makanan ringan yang terbuat dari bahan dasar tepung singkong. Warna kuning dan rasa manis legitnya sungguh menggiurkan lidah.
“Bing, besok ikut ayah ke Madura ya?” ungkap bunda. Jarak dudukku bersebelahan dengan beliau, ku toleh tak mengerti.
“Paman Ansorinya nyuruh ke Madura, kamu mau disyaratin sama kyainya,”
Aku mendesah. Ternyata pikiran itu masih belum hilang dari ayah dan bunda.
“Emang aku mau diapain lagi?” tanyaku rada setengah ketus.
“Iya cuman disyaratin saja, katanya sang kyai sudah tirakatin kamu dengan puasa 41 hari, jadi besok kamu mau dikasih sesuatu”
Hah, puasa 41 hari. Gak salah tuh!!! Pikirku nakal.
“Bunda masih percaya kalo aku digituin sama Riko?” tanyaku.
“Yah takut saja, kalau kamu masih dikancing sama mantan tunanganmu dulu,”
Astaghfirullah…
“Bunda,” kutatap kedua mata yang sangat kuhormati itu.
“Kalau bunda mau percaya, aku sebenarrnya baik-baik saja, tanpa harus memikirkan hal-hal buruk akan menimpaku,” perlahan ku beri pengertian kepada bunda, agar tak terlalu merisaukan keadaanku.
“Siapa yang tahu nak kelakoane wong lanang, punya rasa dendam dengan kita, trus kamu diapa-apain,”
“Tapi ini sudah lama bunda, masa’ harus dikait-kaitkan lagi dengan dia?”
“Dulu budemu juga digituin bing, sama mantan suaminya aura bibimu di tutup, pas setelah disyaratin, budemu akhirnya bisa menikah lagi,”
“Tapi sekarang ceritanya lain kan bunda, aku gak sama dengan bude,” belaku.
“Sudahlah, pokoknya besok kamu ikut ayah ke Madura, cuman sebentar saja, habis gitu langsung balik,” nada suara bunda sudah tak bisa kusahut lagi. sulit banget mengelak, apalagi beliau memang berwatak keras. Jadi aku memilih diam, percuma beragumen membela diri, nanti dikira membantah.
Duh gusti, aku tak tahu apa yang harus kulakukan, untuk meyakinkan kedua orang tuaku. Terutama pada bunda. Pasca saudara sepupuku yang seumuran, semuanya pada laris manis dipinang orang. ditambah, berdekatan bulan-bulan kemarin, anaknya bi Salwah adik dari bunda yang berusia 17 tahun bernama “Nur” dilamar orang. alamak, lengkap sudahlah kekhawatiran bundaku. Sebab, gadis 22 tahun sepertiku. Pastinya akan menjadi buah bibir di kalangan masyarakat di sekitarku. Karena 22 tahun dirasa sudah pantas, dinilai cukup umur untuk membina rumah tangga. Hm, Siti Nurbaya era globalisasi yang masih mengakar.
Apalagi ditambah dengan kondisi negeri yang serba dilanda duka akibat bencana. Terkadang bisa menjadi sindiran yang menohok, seakan berkelakar sembari memancing umpan milik orang lain.
“Gunung merapi wis meletus loh yo, ndang nggolek,” tutur mbak Tarni. Perempuan dua anak ini, yang tinggal bersebelahan dengan rumah, selalu mengerecokiku.
“Tenang ae mbak, gunung semeru sek durung kok,” balasku tak mau kehilangan ide. Astaghfirullah, separah itukah diriku, yang kini memilih untuk sendiri. Memang, pasca putus dengan Riko mantan tunanganku. Tak terlihat lagi, pria yang datang mengunjungi rumahku. Karena itulah, bermacam spekulasi bermunculan. Mulai dari dikancing, istilah yang entah darimana berasal, sebab kata itu merebak begitu saja, jika ada wanita tak kunjung datang jodohnya juga, atau bahasa kasarnya tak laku-laku jua. Pasti ada sesuatu di balik wanita itu. Yah, anggapan ada penghalang yang mempersulit bertemunya jodoh. Dan indikator pasti tak jauh melihat sisi lain dari kisah asmara sang wanita. Apakah ada orang lain yang pernah dekat dengan wanita tersebut? maka, pria itulah yang akan dicurigai sebagai dalang penghambat. Takutnya diguna-guna, biar gak laku. Ternyata, sugesti tak karuan ini begitu merugikan banyak pihak. Selain wanita tersebut yang mungkin bisa dirundung perasaan tak tenang, akibat efek pernyataan tersebut. hal ini pula dapat mempengaruhi keluarga sang wanita. Segala cara diusahakan, agar wanita ini bisa terlepas dari mantra guna dari si pengirim. Kosakata “cinta ditolak, dukun bertindak” masihkah berlaku bagi mereka yang pernah mereguk kisah asmara. Apakah lelaki yang katanya bertugas melindungi kaum hawa berbuat demikian, saat cinta tak lagi bersemai? Dan sempat terlintas kehendak aku ingin sekali menanyakan hal ini kepada Riko, apakah dia melakukan itu terhadapku? Hingga orang tuaku mulai bertindak sesuatu yang tak seharusnya dilakukan mereka. Apalagi jika bertentangan dengan ajaran agama. Lima bulan lalu, aku sempat disuguhi berbagai ritual aneh-aneh. Seperti bunda yang menyuruhku mandi kembang selama tujuh hari berturut-turut, katanya itu risalah dari seorang bu Nyai berinisial “M”. Tapi, tanpa sepengetahuan bunda. Aku hanya membasahi racikan bunga yang baunya ngeh seperti bau kembang orang mati. Lalu ku buang seusai mandi. Maaf bunda, aku tak ingin mandi kembang. Karena aku lebih suka wangi sabun mandi.
Tak henti sampai disitu, bunda sering berbagi keluh asa kepada saudara-saudaranya. Tak ayal, pak lek Hadi turut memanggilkan orang pintar yang disebutnya ustadz.
“Dia asalnya dari Madiun, sudah banyak orang yang jodoh (cocok) sama bantuannya,” tutur bunda, sehabis mendengarkan profil sang ustadz dari pak lek.
Kalau ingat cerita ini, aku tak kuasa menahan tawa. Yah, seperti biasa aku pun harus mengikuti prosesi ritual yang dilakukan ustadz “brengos” julukan yang kusematkan, berkat kumis tipisnya yang klimis. Aku disuruh berdiri menghadap kiblat, lalu dari kejauhan ustadz brengos terlihat memejamkan kedua mata, sembari menggerak-gerakkan tangan kanannya, seperti orang melambai-lambai ke kiri ke kanan. Tak lupa, mulutnya komat-kamit membaca lafadz-lafadz al quran. Yang kudengar, dia melantunkan ayat kursi. Setelah itu, dia pindah tempat berdiri di belakangku. Saat itu ku amati, rautnya nampak serius. Pun keringat telah menjalari tubuhnya, hm kayak abis ikut tinju aja, pikiranku berkelakar. Dan aku terkejut, saat tiba-tiba dia memukulkan satu batang lidi ke kepalaku kira-kira lima kali. Sontak aku cekikikan. Apa-apaan ini. Emangnya aku kesurupan.
Hanya butuh 15 menit saja, proses ini berjalan. lalu ustadz brengos melanjutkan kegiatannya dengan meminta bedak powder yang baru. Agar nanti kupakai. Kebetulan bunda menyimpan bedak baru, di bawah laci lemari kerja.
“Ini tadi pagi, aku barusan beli, jadi masih anyar,” ujar bunda sembari menyerahkan revil bedak berukuran 5 x 4 cm, berwarna yellow beage kepadaku. Setelah mendapatkan bedak tersebut, ustad brengos memohon diri untuk masuk ke suatu ruangan sepi. Bundaku pun menunjuk ke sebuah kamar tamu, pintu pun ditutup rapat. Tak heran, pasti mau bikin aji-ajian pada bedak itu.
Lima menit berlalu, ustad brengos itu keluar. Lalu, diserahkan ke pak lek, seraya berbisik-bisik. Seusai itu, ia berpamitan pulang kepada aku dan bunda. Sebelumnya, bunda menitipkan lembaran rupiah kepada pak lek, yang kemudian diberikan ke ustad tersebut. Tak lupa, ustad itu menyampaikan risalah kepadaku.
“Insyaallah, semoga habis ini kamu lekas dipertemukan sama jodoh mu,” harapnya.
“Amiin pak,” jawabku. Walau pun caranya tadi menurutku bersimpangan, tapi dia cukup bijak dalam bertutur.
Masih berlanjut, sehabis mengantarkan ustad tadi, pak lek mendekatiku sembari memberikan bedak tersebut. Tak lupa adik bapak ini berpesan,
“Kalo berpergian keluar rumah, jangan lupa pake bedak ini, agar auramu terlihat memancar, sambil berpoles, baca doa hawwala sebanyak tujuh kali,” aku pun cuman bisa menjawab “iya” saja. Meski dalam hati beristighfar menjalani ini. Percuma, aku mengelak, tetap saja tak ada yang mafhum.
Namun, bedak dari ustad brengos itu aku sembunyikan. Karena powder milikku masih ada, dan beruntung bentuknya tak jauh beda dengan bedak yang telah terkena rangkaian mantra doa-doa. Dan aksiku ini, tidak diketahui bunda. Walau pun beberapa kali, bunda mengontrol dan menanyakan perihal tersebut. Lagi-lagi aku harus berani bohong.
Dan aku bersyukur, ketika selang satu minggu berlalu, saat aku baru pulang dari mengajar ngaji. Rumah pak lek hadi yang satu gang dan berjarak lima petak dari tempat hunian keluargaku, dengan duduk santai diatas dengklek kayu meneriaki namaku, sontak aku menoleh.
“Kemari dulu, ada yang mau paman omongin ke kamu,” tandas pria bertubuh kurus nan berwajah item manis ini. Kerenyut dahiku menekuk. Kini, pak lek sudah tepat berada didekat ku. Sembari memainkan kaca spion kanan sepedaku,
“Ada apa lek?” tanyaku.
“Kamu belikan bedak baru lagi, bedak yang kemarin itu katanya ustad bekas dari ibu mu,” ujar pamanku ini.
“O ya lek, insyaallah ya,” jawabku.
“Secepatnya ya Rin,” tukas pak lek menyebutku Rin, diambil dari nama tengahku, Karina. Bersama sepeda supra 125X aku segera beranjak kembali ke rumah. Tak lupa, bibirku tersungging riang mendengar pengakuan pak lek. Ternyata, Allah SWT melindungiku dari perangai ini. Subhanallah, terima kasih ya Robb, Kau perlahan menuntunku, agar terjaga dari hal-hal menyimpang. Dan urusan bedak ini, cukup menjadi rahasia berhargaku saja.
# # #
Perjalanan ke Madura ditempuh selama empat jam, ada ayah, aku, adikku Aliya, keponakanku Rafly, bocah berusia 5 tahun ini, sengaja ku ajak, biar tambah ramai aja waktu di mobil. Kebetulan, ayah menyewa supir untuk mengendarai kijang innova silvernya. Maklum, jarak menuju lokasi desa kami lumayan jauh, hampir 16 km dari Surabaya, yah, namanya juga ndeso poll.
Dari Surabaya kami berangkat siang pukul 12.00 WIB, sesampainya disana pukul 15.30 WIB. Belum lagi, kondisi kota Sampang pada tahun ini tergenang air banjir. Jadi, terpaksa kami harus memutar mencari jalan alternatif.
Dan jam empat pas waktu sore, kami pun tiba di kampung halaman eyang putri kami. Saudara-saudara kecilku telah menyambut kedatangan kami.
“Mbak Karin,” panggil Anas menghampiriku, saat aku turun dari mobil. Ia menyalamiku. Tubuh kecilnya lumayan berisi, terang saja usianya kini memasuki 6 tahun. Hampir sepadan dengan Rafly, cuman bedanya Rafly tidak bisa berbahasa Madura, sedari orok dia memang terlahir di Surabaya, sedangkan Anas sejak dalam kandungan, kedua orang tuanya asli berstatus penduduk medunten.
Di langgar, paman Anshori terlihat duduk bersila, ia tengah menemani seorang lelaki yang telah berumur. Sepantasnya aku sebut dia kakek tua, yah, guratan kerut mulai mengeriputkan setiap kulit di tubuhnya. Namun, nada suaranya masih terdengar lugas, tegas. Dengan memakai sarung, baju batik cokelat lengan panjang, kopyah hitam pria itu sesekali meminum kopi yang dihidangkan, berlanjut menghisap rokok puntung yang diapit oleh jari telunjuk dan jari tengahnya. Seketika ayah turut bergabung ke langgar. Aku, Aliya dan Rafly diajak isri paman Anshori Bi Nafisah masuk ke dalam rumah keluarga. Namun, pandanganku ketika sampai, tak hentinya tak mau lepas menatap bapak tua yang kutaksir berumur 60 tahun ke atas itu.
Hari akan menunjukkan semakin petang, Aliya minta ditemani ke kamar mandi, karena setiap bilik di sekitar rumah memiliki ruang terpisah. Ruang dapur berada di depan halaman rumah, perlu sekitar 15 langkah menuju ke sana, sedangkan kamar mandi di sebelah kiri rumah hanya butuh 10 langkah. Yah, kalau dipantau melalui satelit palapa, rancangan rumah eyang kami berbentuk persegi panjang, berhadapan dengan ruang lainnya. Setiap bangunan mempunyai kegunaan sendiri. Rumah keluarga, rumah tamu, rumah dapur, serta bangunan langgar yang multiguna bagi siapapun, tapi langgar khusus digunakan untuk sarana ibadah.
Bau aneh tiba-tiba menyergap penciumanku. Oh, tidak, paman anshori membawa tungku yang berisi bakar-bakaran, benda putih itu terlihat meliuk-liuk mengepul, lalu menyerebakkan aromanya yang membuatku terganggu, tak salah lagi, untuk kesekian kalinya aku akan menjalani ritual konyol ini. Bubuk kemenyan yang telah dibangkitkan oleh api itu, berhamburan berubah asap yang siap membantu mengusir kekuatan jahat dan buruk.
Tungku kemenyan ditaruh disamping kamar mandi, lalu paman anshori mondar mandir lagi mengambil bak air yang telah bertaburan the flowers seven of face, dan sebuah kain putih, yang tak jelas kuamati, ikut menyusul keberadaan kemenyan tersebut. seakan, perlengkapan ritual telah tersaji. Pak tua itu mendekati paman Anshori, dan ayahku. Sedangkan, aku yang hanya bisa memandang aktifitas barusan, duduk terdiam terpaku. Hatiku berbisik, aku tahu apa yang harus kuperbuat.
“Rin, cepat ganti bajumu, terus keluar nak” perintah ayah.
“Mau ngapaian yah?” tanyaku curiga.
“Kamu mau dimandi’in ama pak kyai, buat tombo,” terang ayah, yang jelas akan kutentang.
“Sebenarnya ayah sadar gak sih, apa yang dilakuin ini gak benar yah, ngapain dia mau mandi’in aku?” protesku.
“Gak usah bantah, mandinya cuman sebentar kok, ntar mandinya sambil di bacakan doa-doa ama kyai,”
“Maaf yah, tapi aku gak mau jika caranya kaya gini, ayah kan tahu hal ini jelas dilarang oleh agama,”
“Ndak nak, kamu nanti cuman disiram aja trus didoain, biar kamu cepat sembuh,” ungkapan ayah, seketika membuat kedua pelupuk mataku menganak.
“Aku tuh gak sakit yah, ayah itu seharusnya percaya dengan Allah bukan sama dia,” tunjukku langsung mengarah lelaki tua, yang dari kejauhan, kusoroti dia seperti tak sabaran melihat gelagatku.
“Rin, ini namanya ikhtiar nak, tolonglah kamu turuti,”
“Mendingan aku dikasih bacaan doa-doa yah, daripada harus dimandikan ama dia,” sesegukanku mulai parah, air mataku pun jatuh mewakili rasa sedihku ini. Aliya dan Rafly pun turut menyaksikan adegan pilu ini. Ah, Rafly, dalam tatapan diamnya, pasti batinnya bertanya, mengapa tantenya menangis?
“Ayolah Rin, biar gak lama-lama, kita harus cepat balik ke Surabaya,” ayah menarik lengan kiriku. Tapi kutepis.
“Hanya sekali ini saja nak, cepatlah,” aku tahu ayah buru-buru memaksaku, karena ocehan pak tua itu semakin keras terdengar, sepertinya dia ikut kesal menungguku.
Bi Nafisah mendekatiku. Dan ayah pun menjauh. Pasti Bi Nafisah akan merayuku untuk memenuhi permintaan ayah itu.
“Ayolah rin, kasihan ayahmu, sudah jauh-jauh dari Surabaya, terus kamu gak mau,”
“Bi, jika aku tahu kejadiannya kayak gini, mungkin aku tidak ikut,” jawabku tegas.
“Bibi kan tahu, hal ini salah,” tambahku.
“Ya bibi tahu, tapi mau gimana lagi, ibumu sudah terlanjur meminta om mu untuk minta syarat, agar kau terbebas dari hal-hal buruk,”
“Tapi gak begini caranya, Bi, aku ngerasa sakit banget,”
“Lakukan sekali ini saja untuk terakhir kali, jika hal ini terulang lagi, kamu berhak menolak,” ungkap bi Nafis membelaiku. Tangisku sungguh membuncah. Sejenak, aku berpikir. Ya Allah, apa yang harus kuperbuat. Agar ini segera berakhir. Lalu, entahlah aku meminta inisiatif.
“Aku mau, Bi, tapi yang memandikanku harus ayah sendiri, aku gak mo pak tua itu yang menyiramiku,”
“Baiklah, akan kubicarakan dengan ayahmu, sekarang kamu ke kamarnya bu lek, ganti baju gih,”
Aku pun melangkah ke kamarnya bu lek.
Pakaian Bi Nafis sudah kupakai, seluruh tubuhku harus tertutup. Terutama kepalaku yang berhijab. Meski berbagai rasa asa bercampur satu, aku bersyukur, ayahku sendiri yang akhirnya memandikanku dengan siraman air kembang, dan aku sempat ngeri kain putih yang disematkan ditubuhku sebelum mandi, ternyata kain kafan. Astaghfirullah, tak lupa kuucapkan dzikir istighfar sebanyaknya, aku membayangkan diriku ibarat mayat hidup yang imannya sedang dilanda goncangan dahsyat. Sembari menyiramiku, ayah melafadzkan doa-doa yang diajarin bapak tua itu. Saat siraman ke lima membasahi tubuhku, aku minta berhenti. Bukan karena kedinginan. Ada sesuatu yang tiba-tiba menyelimutiku, hingga buluk kuduk merinding. Innalillah, aku baru ingat, tepat letak ayah memandikanku, disamping kamar mandi, ternyata di belakangnya ada tempat pemakaman keluarga besar kami. Seandainya, nenekku masih hidup dia pasti membelaku, karena dia adalah sosok yang agamis. Namun aku tahu dibalik peristirahatan panjangnya, beliau pasti mengetahui kejadian ini. Dan aku, walau sesungguhnya ingin marah atas perlakuan ini, aku berusaha menahan, agar aku kuat dengan tonggak ketabahanku. Karena Allah tak akan pernah melepas tangan hamba-Nya, bagi mereka yang bersabar atas cobaan dan ujian hidup.
# # #
Seusai sholat maghrib, kami berpamitan pulang kepada bibi Nafisah dan paman Anshori. Sebelum beranjak pulang, paman memberiku sebuah botol kecil berisi cairan merah.
“ini titipan dari kyai,” paparnya seraya memindahkan ke tanganku.
“Sehabis sholat maghrib baca doa ini, terus kalau mau keluar rumah, jangan lupa ini dipakai, sambil memohon, agar siapa pun yang meihat kamu, dia langsung suka, hingga dia terus memikirkan kamu, sampai dia tergila-gila jatuh hati padamu,” tutur paman Anshori bertele-tele panjang lebar, kayak membacakan teks drama saja.
“Ceritanya ini minyak wangi mahabbah ya man?” tandasku.
“Sudahlah dipakai saja,” balas paman.
“Tapi aku mau Tanya, paman kan dulu sempat nyantri di pesantren, apa hal ini diperbolehkan, kan sama saja bikin orang lain terhipnotis,” sindirku sambil kuselingi gurauan. Sayangnya, paman Anshori tak menjawab, dia hanya meringis. Sudah kutebak, paman tidak berani menjawab. Mungkin ngerasa malu atau lainnya.
Perjalanan pulang butuh waktu berjam-jam pula. Di dalam mobil, keponakanku Rafly melihatku kemudian duduk di pangkuanku, ia setengah berbisik mendekatkan kepalanya kewajahku.
“Tante tadi kok nangis, napa?” tanyanya polos. Subhanallah, ternyata ia ingin tahu. Aliya yang juga mendengar pertanyaan Rafly, memandangku. Dan kujawab,
“Tante tadi kelilipan, habis ngeliat bintang jatuh,” dan ia pun hanya tertawa mendengar jawabanku. Ah, semoga saja dia tak mengerti atas apa yang telah menimpaku. Dan semoga saja Aliya tak pernah mengalami hal serupa denganku, adikku yang terpaut 5 tahun denganku ini, tanpa kujelaskan, dia sudah memahami di balik semua kejadian ini.
“Semoga hati ayah dan bunda terketuk mbak,” harapnya jua.
Dan sebuah pesan sms masuk. Dari Laila, sahabat karib semasa kuliah dulu.
- Selamat tahun baru Islam 1 Muharam 1432 H
Semoga menjadi insan yang lebih baik dan kaffah
Semoga Iman dan taqwa kita terjaga hanya untuk-Nya
amiin-
seketika, buliran kristal perlahan keluar dari kedua kelopak mataku, mewakili segenap asa yang tertimbun di dada.
# # #
Hachiko: A Dog's Story, dibintangi oleh aktor yang memiliki ketampanan "abadi" (sampai tua gitu tetep aja keren) Richard Gere yang berperan sebagai Prof. Parker Wilson serta Joan Allen sebagai Cate Wilson, istri sang profesor. Kisah berawal ketika Ronnie berkisah tentang pahlawannya. Seekor anjing milik kakeknya.
Seekor anjing dikirim dalam sebuah perjalanan oleh seorang biksu di Jepang. Dalam perjalanannya, Hachiko akhirnya "lepas" di sebuah stasiun di kota Bedridge. Kemudian, si anjing yang tersesat bertemu dengan Parker. Prof. Parker bermaksud untuk menitipkan si anjing pada Carl, petugas stasiun, tapi Carl menolaknya dan menyarankan agar Parker membawa pulang anjing itu. Akhirnya Parker membawa pulang anjing itu. Meskipun di awal istrinya menolak kehadiran anjing itu, namun kemudian ia menerimanya karena melihat Parker dan anaknya Andy begitu bahagia dengan kehadiran anjing itu. Parker membawa si anjing kepada temannya Ken. Ken pun menjelaskan tentang anjing yang berjenis Akita dan ia pun membaca kalung yang melingkari leher anjing itu. Di liontin itu ada huruf kanji yang berarti Hachi atau delapan. Ia menjelaskan bahwa Hachi adalah lambang keberuntungan. Dan anjing jenis Akita adalah anjing yang begitu setia dengan majikannya. Biasanya dimiliki oleh keluarga kerajaan dan menjadi teman untuk berburu. Sejak saat itu, anjing itu dipanggil dengan nama Hachi. Hachi mewarnai kehidupan keluarga Parker dan telah menjadi bagian dari keluarga,
Hachi, adalah anjing yang spesial, ia begitu setia pada Parker. Saat pagi ia mengantarkan Parker ke stasiun kemudian ia pulang dan kembali ke stasiun tepat pukul 5 kurang 5 untuk menjemput Parker. Begitu seterusnya, Hachi selalu melakukan "ritual" yang sama setiap harinya. Apa yang dilakukan Hachi menarik perhatian banyak orang di sekitar stasiun, Jasjeet, si penjual hot dog, Mary Ann penjual buku, Carl petugas stasiun, dan pasangan suami istri penjual daging. Hachi setia menunggu kedatangan Parker di depan pintu stasiun dari hari ke hari. Hingga Parker kemudian meninggal di kampusnya dan tidak pernah keluar dari pintu stasiun untuk pulang. Tapi Hachi terus menunggunya hingga malam, hingga Andy, anak Parker, menjemput Hachi pulang.
Setelah Parker meninggal dunia, Hachi tinggal bersama Andy. Namun, Hachi sepertinya ikut merasakan kehilangan, ia tidak banyak beraktifitas. Hingga suatu hari Hachi kabur dari rumah dan pergi ke stasiun di kota Bedridge. Sejak itu ia terus menunggu "kedatangan" Parker, tuannya, di depan pintu stasiun. Di tempat yang sama setiap harinya. Hingga musim berganti dan Hachi pun menjadi pembicaraan setiap orang di kota itu hingga menarik seorang wartawan untuk meliputnya. Selepas itu kisah tentang Hachi, anjing yang setia menunggu kedatangan tuannya yang sudah meninggal menjadi legenda di kita itu. Hachi telah menjadi bagian dari hidup semua orang di Bedridge. Hachi terus menunggu di stasiun hingga 10 tahun kemudian. Cate yang sedang berziarah di makam Parker, terkejut karena melihat Hachi masih setia menunggu. Hachi terus setia menunggu hingga dia meninggal di depan stasiun itu.
Film ini terinspirasi dari kisah yang sama tentang Hachiko, anjing yang setia pada tuannya Prof. Hidesaburo Ueno, profesor departemen agricultur di Universitas Tokyo, Jepang. Hachi di dunia nyata meninggal di tahun 1935. Hachi menjadi legenda di kota Shibuya, Jepang. Bahkan di depan stasiun Shibuya terdapat monumen Hachiko.
Hachiko mengajarkan saya akan banyak hal. Terutama adalah tentang kesetiaan. Kesetiaan yang hanya patah oleh usia. Kesetiaan tanpa pamrih. Kesetiaan yang hanya dapat terjadi, jika tidak hanya rasa cinta kasih yang mendasari sebuah hubungan melainkan juga bentuk penghormatan, menghargai, pengabdian, dan mendasarkan semua pada kepercayaan.
Berharap sebuah kesetiaan ataupun bersetia pada satu diri mungkin merupakan barang langka sekarang ini. Banyak sekali alasan yang dijadikan pembenaran saat sebuah perselingkuhan atau ketidaksetiaan terjadi. Namun bukan berarti kesetiaan abadi itu tidak ada. Beberapa kisah bertebar di sekitar kita. Salah satunya adalah kisah seorang wanita yang memegang kesetiaannya hingga ruh terpisah dari raganya. Ainun Habibie, wanita berusia 72 tahun, istri dari presiden ketiga Indonesia BJ Habibie. Kisah Ibu Ainun menjadi istimewa bagi saya, karena beliau dengan setianya mendampingi sang suami dalam keadaan apapun dan dimanapun Pak Habibie berada. Di Jerman maupun Indonesia. Kesetiaan dan kebaikan Ibu Ainun yang selalu ada di sisi suaminya membuat beliau pun mendapat perlakuan yang sama dari suami dan anak-anaknya. Pak Habibie tak sesaat pun beranjak dari isi Ibu Ainun. Hingga beliau menghembuskan nafas terakhirnya di Jerman.
Dua kisah ini benar-benar membuat saya tersadarkan. Kesetiaan tidak dapat diraih dalam waktu sekejap. Kesetiaan adalah sebuah proses panjang sebuah hubungan. Apakah itu hubungan antar manusia pun manusia dengan makhluk lain.
Mungkin saya bukan Hachiko yang begitu setia dengan tuannya atau Ibu Ainun yang memegang teguh kesetiaannya hingga ruh itu terlepas. Saya hanya perempuan yang cukup tahu apa itu mencintai, pengorbanan, dan kesetiaan. Saya perempuan yang tahu menempatkan kesetiaan saya sampai sejauh apa. Saya perempuan yang tahu kepada siapa saya harus setia dan menunggu kehadirannya.
Kesetiaan itu langka tapi ada.
A True Story of Faith, Devotion and Undying Love
Hachi, adalah anjing yang spesial, ia begitu setia pada Parker. Saat pagi ia mengantarkan Parker ke stasiun kemudian ia pulang dan kembali ke stasiun tepat pukul 5 kurang 5 untuk menjemput Parker. Begitu seterusnya, Hachi selalu melakukan "ritual" yang sama setiap harinya. Apa yang dilakukan Hachi menarik perhatian banyak orang di sekitar stasiun, Jasjeet, si penjual hot dog, Mary Ann penjual buku, Carl petugas stasiun, dan pasangan suami istri penjual daging. Hachi setia menunggu kedatangan Parker di depan pintu stasiun dari hari ke hari. Hingga Parker kemudian meninggal di kampusnya dan tidak pernah keluar dari pintu stasiun untuk pulang. Tapi Hachi terus menunggunya hingga malam, hingga Andy, anak Parker, menjemput Hachi pulang.
Setelah Parker meninggal dunia, Hachi tinggal bersama Andy. Namun, Hachi sepertinya ikut merasakan kehilangan, ia tidak banyak beraktifitas. Hingga suatu hari Hachi kabur dari rumah dan pergi ke stasiun di kota Bedridge. Sejak itu ia terus menunggu "kedatangan" Parker, tuannya, di depan pintu stasiun. Di tempat yang sama setiap harinya. Hingga musim berganti dan Hachi pun menjadi pembicaraan setiap orang di kota itu hingga menarik seorang wartawan untuk meliputnya. Selepas itu kisah tentang Hachi, anjing yang setia menunggu kedatangan tuannya yang sudah meninggal menjadi legenda di kita itu. Hachi telah menjadi bagian dari hidup semua orang di Bedridge. Hachi terus menunggu di stasiun hingga 10 tahun kemudian. Cate yang sedang berziarah di makam Parker, terkejut karena melihat Hachi masih setia menunggu. Hachi terus setia menunggu hingga dia meninggal di depan stasiun itu.
Film ini terinspirasi dari kisah yang sama tentang Hachiko, anjing yang setia pada tuannya Prof. Hidesaburo Ueno, profesor departemen agricultur di Universitas Tokyo, Jepang. Hachi di dunia nyata meninggal di tahun 1935. Hachi menjadi legenda di kota Shibuya, Jepang. Bahkan di depan stasiun Shibuya terdapat monumen Hachiko.
Hachiko mengajarkan saya akan banyak hal. Terutama adalah tentang kesetiaan. Kesetiaan yang hanya patah oleh usia. Kesetiaan tanpa pamrih. Kesetiaan yang hanya dapat terjadi, jika tidak hanya rasa cinta kasih yang mendasari sebuah hubungan melainkan juga bentuk penghormatan, menghargai, pengabdian, dan mendasarkan semua pada kepercayaan.
Berharap sebuah kesetiaan ataupun bersetia pada satu diri mungkin merupakan barang langka sekarang ini. Banyak sekali alasan yang dijadikan pembenaran saat sebuah perselingkuhan atau ketidaksetiaan terjadi. Namun bukan berarti kesetiaan abadi itu tidak ada. Beberapa kisah bertebar di sekitar kita. Salah satunya adalah kisah seorang wanita yang memegang kesetiaannya hingga ruh terpisah dari raganya. Ainun Habibie, wanita berusia 72 tahun, istri dari presiden ketiga Indonesia BJ Habibie. Kisah Ibu Ainun menjadi istimewa bagi saya, karena beliau dengan setianya mendampingi sang suami dalam keadaan apapun dan dimanapun Pak Habibie berada. Di Jerman maupun Indonesia. Kesetiaan dan kebaikan Ibu Ainun yang selalu ada di sisi suaminya membuat beliau pun mendapat perlakuan yang sama dari suami dan anak-anaknya. Pak Habibie tak sesaat pun beranjak dari isi Ibu Ainun. Hingga beliau menghembuskan nafas terakhirnya di Jerman.
Dua kisah ini benar-benar membuat saya tersadarkan. Kesetiaan tidak dapat diraih dalam waktu sekejap. Kesetiaan adalah sebuah proses panjang sebuah hubungan. Apakah itu hubungan antar manusia pun manusia dengan makhluk lain.
Mungkin saya bukan Hachiko yang begitu setia dengan tuannya atau Ibu Ainun yang memegang teguh kesetiaannya hingga ruh itu terlepas. Saya hanya perempuan yang cukup tahu apa itu mencintai, pengorbanan, dan kesetiaan. Saya perempuan yang tahu menempatkan kesetiaan saya sampai sejauh apa. Saya perempuan yang tahu kepada siapa saya harus setia dan menunggu kehadirannya.
Kesetiaan itu langka tapi ada.
A True Story of Faith, Devotion and Undying Love
Di lantai empat kantor redaksi, gedung Potret.
Aku sungguh tidak menyangka, baru enam bulan seusai wisuda. Kesempatan bekerja pun menghampiriku. Padahal, baru pertama kali menaruh surat lamaran kerja di institusi sebuah pers terkenal. Menjalani sgala tahap test seleksi, akhirnya aku lolos jadi fotografer. Cihuy, senangnya hatiku. Namaku Alisa Fitri Maharani. Biasa dipanggil Pipit atau Rani atau terserah sesuka hati.
Setelah kemarin Potret menerimaku. Hari ini pulalah aku langsung bekerja. Jadi, jam Sembilan pagi, aku must ontime, karena ada rapat pembahasan tema edisi selanjutnya. Setiba di kantor, seketika aku langsung bergabung dengan kru lainnya. Beruntung, aku tepat waktu. Tapi, rapat redaksi belum dimulai. Kebetulan, posisi kursiku bersebelahan dengan Sekar.
“Pagi mbak,” sapaku menyuguhi ukiran bibirku.
“Pagi juga,” balasnya tanpa memandangku. Kerenyut dahiku menekuk. Memang bukan hal mudah, untuk memulai aktivitas hari pertama di kantor. Mulai dari beradaptasi dengan seluruh kru, karyawan dan manusia yang ada di sekitar gedung berlantai delapan ini. Tak perlu bertanya identitas. Id card telah terpasang di sebelah dada kiri dengan pakaian berwarna hitam pada tiap karyawan. Kebetulan, aku belum mendapat seragam. Jadi, meski agak canggung tapi aku mencoba bersikap sok akrab, dan memaksa diri tuk berbaur.
Kami duduk mengitari meja elips terbuat bahan campuran batu marmer dan pualam, berwarna biru putih. Para pemburu kejadian pun telah memenuhi kursi masing-masing. Tampang mereka memang sangat responsible dan menyimpan ability kuat. Aura journalist mereka sungguh ketara. Seiring bergulirnya masa, pasti mereka sudah tahan banting menjalani profesi sebagai jurnalis dan fotografer. Yang kerjanya bergelut dengan bermacam peristiwa kehidupan di luar. Apalagi wartawan, kudu siap wara wiri mengejar bermacam bentuk tipologi narasumber, yang kadang keukeh sulit untuk dimintai keterangan. Tak peduli dicibir, diacuhkan, terpenting saat penyetoran berita, kevalidan data telah tersusun berupa kalimat paragraph.
“Selamat pagi semuanya,” suara seorang gadis berambut panjang hitam lurus sebahu memakai syal merah itu telah hadir menduduki kursi paling khusus diantara kru. Dan para insan yang berjumlah sekitar 15 orang termasuk aku serempak membalas salamnya “selamat pagi juga”, kepada gadis bernama lengkap Eva Maya Wulandari.
“Loh, mana kak Abdi, kok kamu duduki tempatnya kakak?” Sekar langsung menyerobot tanpa ikutan salam dengan kru. Intaian mata pun menuju ke arah gadis berkulit kuning langsat itu.
“Sebelumnya, saya ingin menyampaikan bahwa mas Abdi lagi ada halangan dia lagi ngeliput ke luar kota, jadi kalian semua ada titipan salam maaf darinya dan rapat kali ini, lagi-lagi saya dipercayai untuk menghandle rapat ini, terima kasih” Maya mengakhiri ucapannya.
Kulirik Sekar manyun, kayak sensi banget dengan wanita yang menempati kursi Abdi, abangnya. Acara penentuan tema pun dimulai. Beragam usulan judul bersahutan dari pribadi para kru. Semuanya berdasarkan pengalaman dan realita. Ada yang ingin mengungkap kasus prostitusi remaja, perdagangan anak (trafficking), merebaknya video mesum, semarak lokalisasi, bahkan ada masukan tema yang ingin menguak tentang kritik kinerja pemerintahan pada saat ini. Hm, lumayan berbobot. Sekaligus lebih menantang. Masing-masing mereka menjelaskan maksud dari tema yang diajukan. Jika ditemui ada satu hal menarik yang perlu ditelusuri, maka semua harus sepakat untuk menggarapnya.
“Ada yang lain?” suara Maya membuatku menatapnya dengan senyum.
“Pipit?” aku glagapan namaku disebut.
“Punya usulan tema?” Tanya perempuan bermata sayu itu. Tanpa babibu. Aku mengiyakan.
“Tentang kasus penculikan, mbak” ujarku ngasal. Entah, mengapa lidahku ingin mengeluarkan kata-kata itu. Padahal aku hanya sekedar mengingat judul hotnews berita pada salah satu koran yang kubaca tadi pagi. Akibatnya pun sekarang seluruh bola hitam putih manusia di ruangan itu mengekoriku. Seakan waktu tiba-tiba tak bergerak, dan para jiwa pun mematung. Mungkin usulanku terdengar konyol, aku pun hanya melebarkan bibirku.
“Maaf jika temaku agak kurang menarik,” timpalku menyelamatkan diri.
Tapi, Maya menampakkan ekspresi lain. Dia menyuguhiku dengan senyuman, kupikir hal itu penunjuk baik.
“Boleh juga usulmu Pit, apa alasanmu ingin mengusung tema itu?”
“Sebenarnya sih, aku hanya sekedar bilang aja, jadi alasannya aku gak tahu, napa aku bisa langsung ngomong gitu, hm, mungkin ini efek baca berita hari ini mbak, jadi kebawa deh?” selorohku datar.
“Maksudmu tentang misteri peristiwa 4 tahun hilangnya model cantik Lorensia Stefanny,” kepalaku angguk, membenarkan.
“Kebetulan juga tadi aku sempat membaca beritanya di koran, hari ini adalah hari peristiwa dimana Stefanny tiba-tiba lenyap pacsa show di taman anggrek Jakarta” sahut salah satu kru lain.
Kepala Maya bergerak mengamati Andika Purnomo, pemilik suara barusan ialah cowok berkaos dagadu hitam dengan rambut hitam cepak, berpiawakan tubuh gemar atlet, nampak dada rampingny terbungkus mengekar.
“Meski aku baru 2 tahun bergabung disini, peristiwa raibnya beberapa gadis yang terkenal itu sampai sekarang belum diketahui keberadaan nasib mereka, polisi pun sempat kewalahan mencari jejak si pelaku, hingga kini tak ada yang tahu motif apa sebenarnya yang terjadi dibalik kejadian ini,” jelas pria berusia 27 tahun itu.
“Kamu benar Dika, kejadian itu memang membingungkan banyak khalayak apalagi pihak tertentu, terlebih hingga sekarang orangnya belum ditemukan, entah dia masih hidup atau sudah mati, tak ada yang bisa memastikan, apakah itu kasus penculikan atau….” Sekar yang langsung melanjutkan arah pembicaraan Andika barusan, ia menggantung perkataannya sambil melirik ke Maya.
“Atau pembunuhan,” ucapnya dengan intonasi ditekan. Layaknya kata itu ditujukan untuk seseorang. Sekar mengekor dengan sorot ketegasan. Dengan duduk berjarak dua meteran, Maya segera membuang muka, seakan ia tak mau ada yang terbaca dari sirat kedua matanya.
“Kalau begitu, kita voting aja,” tukas Maya tak mau berpanjang lebar.
Dari ke 15 orang yang menghadiri rapat. Hanya Sembilan acungan tangan yang menyepakati. Aku pun jua.
“Baiklah, kita deal kan untuk mengambil tema ini untuk dijadikan rubrik kista (kisah dalam peristiwa), untuk rubrik lainnya kita bahas lagi setelah istirahat nanti,”ujar Maya, sembari menulis catatan di laptopnya.
“Silahkan break dulu, setengah jam lagi kita teruskan kembali rapat ini,” lanjut Maya mempersilahkan para kru bubar ruangan. Sebelum beranjak, aku pun mengeluarkan benda note book dengan layar 11 inc. lalu mencatat hasil rapat yang barusan diulas tadi. Kulirik sekilas, Andika dipanggil Maya, cowok jangkung itu pun membuntuti ke ruang kantor cewek kelahiran 1979 tersebut. Pasti mau membahas tentang tema tadi.
“Pit!” tepukan Sekar mengagetkan pundak kananku.
“Eh mbak Sekar, ada apa ya?” tanyaku sontak.
“Temani aku ke kantin yuk!” tanpa menolak. Aku langsung menerima ajakannya. Heranku, ternyata mbak Sekar gak terlalu jaim-jaim amat.
Sesampai di kantin Moro Kenyang.
Aku dan sekar tengah menikmati hidangan soto banjar dengan kuahnya yang putih, dilengkapi suwiran daging ayam, plus irisan telur ayam rebus mengenyangkan. Pelepas dahaga jus alpukat semakin menambah kelengkapan menu pagi itu. Di sela-sela menyantap, kami selengi dengan obrolan berkaitan rapat dua jam lalu.
“Tak seharusnya kamu mengusulkan peristiwa itu,” tegur Sekar membuatku terperanjat. Whats wrong? Pikirku.
“Maaf mbak, aku keceplosan gak sengaja,” sahutku.
“Tapi tak apalah, dengan menginvestigasi peristiwa ini siapa tahu kita bisa membantunya untuk membongkar si pelaku,”
“Maksud –nya itu untuk siapa mbak?”
“Kudengar, Stefanny adalah kekasih kakaknya maya,” hm, aku terhenyak sejenak. Pantesan raut Maya nampak sedu tadi.
“Dan hingga saat ini, kakaknya masih mengangggap Stefanny masih hidup, sejak kekasihnya menghilang, dia selalu mengurung diri di kamarnya dan tak mau berhenti melukis wajah Fanny,” jelas Sekar.
“Kasihan banget ya mbak,” tanggapku.
“Ya begitulah, saat aku melihat langsung kondisi kak Radit, aku jadi gak tega, secara aku juga punya kak Abdi” papar Sekar sambil menyeruput jus hijaunya.
“Tiga tahun lalu, tabloid kami juga sempat menelusuri kasus ini, itu pun karena permintaan dari polres yang meminta beberapa media turut membantu, salah satunya Potret,” lanjut sekar.
“Tapi, kenapa sikap mbak kayak ketus gitu ama Maya?” tanyaku.
Sekar nyengir.
“Yah, aku BT aja pas tahu kalau dia udah pacaran ama kak Abdi, jadi tiap kali dia mengusulkan tema, selalu saja kakak mengiyakan, jadi jangan kaget kalau aku kerap nyerocos saat rapat” tandas Sekar. Membuat bibirku melebar.
“Ya udahlah, gak usah ngomongin dia, ntar jadi gak mood makannya,”
“Jangan gitulah mbak sama calon ipar sendiri,” kelakarku. Sekar hanya geleng-geleng kepala.
Dan kami berdua melanjutkan aktivitas makan. Sembari menyisip kuah soto, otakku tak henti berselancar, kini semua baru jelas. Kenapa kasus ini begitu menarik? Dan aku baru tahu jawabannya.
###
Malam telah menampakkan gurat gelap. Pekat hitam menyelimuti sebagian atmosfir bumi.
Diruang luas 10 x 8 m, seorang gadis mengamati bongkahan es panjang sekitar tiga meter. Dengan posisi tidur, bola matanya yang nampak sedan namun tak menentu tengah menatap dalam balok es itu. Kedua tangannya yang terbungkus sarung tangan putih perlahan meraba dan mengelus penuh arti di sekitar ujung paling atas es.
“Selamat malam Tulip,” sapanya menatap bongkahan es panjang itu. Biasanya jika ada ucapan salam, pasti ada balasan. Namun, ini tidak, keadaan masih tetap hening. Gadis berambut panjang itu menunjukkan senyum sumringah.
“Aku tahu kamu lebih senang di sini, karena disini kita keluarga yang tak bisa terpisahkan,” ungkapnya. Wajah gadis berkulit putih ini semakin mendekat pada benda cair yang berwujud padat itu.
“Terutama aku, sampai kapan pun kita akan selalu bersama” ujarnya tiba-tiba seketika memeluk benda dingin itu. Tanpa peduli suhu es yang bisa mengigilkan tubuhnya. Namun tak lama kemudian ia melepaskan dekapannya. Lalu beranjak, ke kotak lemari pendingin yang lain, ia buka semua sekitar tiga pintu. Isi sama, balok panjang es tiga meter.
“Ketahuilah aku sayang banget ama kalian, jadi kalian harus temani aku,” paparnya seakan berbicara pada dirinya sendiri. Tapi, pandangannya tak mau enyah dari keempat balok tersebut. ada sesuatu tak biasa, meski tiap kali berbicara tak ada sahutan di ruang, ia merasa tak sendiri. ada jalinan komunikasi, antara dia dengan kebekuan es balok itu.
“Hari sudah malam, kalian istirahat ya,” tanpa menunggu, gadis yang memakai kain sutera panjang melilit di lehernya itu segera menutup kembali pintu lemari. Dirasa sudah merapatkan kembali pintu berbahan besi karet itu, ia melangkahkan kaki menuju pintu keluar. Tapi, kepalanya menoleh ke belakang, ia merasa berat hati. Akhirnya dia berbalik lagi.
“Biar kalian tidur pulas, aku akan menyanyikan lagu untuk kalian,” tawarnya, lalu mencari tempat duduk yang nyaman, sekalian bersandar di sebuah kursi bergoyang terbuat kayu.
Lihat tamanku penuh dengan bunga
Ada perinya dan ada putrinya
Setiap hari kita menyanyi
Agar sang puteri selalu tertawa
Lantunan gadis itu benar-benar membuat suasana mencekam. Kata-kata lihat kebunku, diubahnya spontan. Angin malam masuk dari celah-celah balik tembok pun menerpa rambut hitamnya. Dan sesuatu tak terlihat tanpa permisi turut meramaikan nyanyian gadis tersebut, iya jiwa-jiwa yang tak lagi berpenghuni mulai berkelebatan menari-nari di ruang itu, namun mereka seakan ingin mengatakan sesuatu, tapi sayang suara mereka tak bisa didengar oleh siapa pun, kecuali gadis itu. Terlihat malah khusyu bersenandung. Sepertinya gadis itu mendengar, tapi ia malah tak peduli akan jeritan mereka. Karena ia menyukai bisikan itu, suara-suara yang tak pernah diberi ampun.
###
Pukul 09.00 WIB
Papan whiteboard telah dipenuhi coretan tulisan spidol boardmaker. Sesekali ruas kelima tangan kanan Andika memainkan benda panjang seukuran satu depa, yang bisa mengeluarkan cairan hitam itu. Lalu menyusun huruf “Laura Hasti”, selayang pandang Andika kembali menatap keempat orang yang tengah duduk di kursi. Hampir sejam, konsentrasi mereka terpacu pada pembahasan terkait rapat tema kemarin. Sesuai kesepakatan, kasus ini diserahkan kepada kami berlima, aku, Sekar, Andika, Nindy dan Joni.
“Nama siapa tuh dik?” tanyaku.
“Semalam aku dapat info dari teman persku, Laura Hasti adalah salah satu teman akrab Stefanny semasa kecil waktu di sekolah dulu, dan dia bukan artis melainkan designer, pastinya kalian semua tahu kan merk rancangannya?”
Aku menggeleng. Karena tidak tahu.
“Laura Collection, hasil rancangannya memang banyak diminati oleh kalangan artis, maupun entrepreneur, karena fashion yang ia tunjukkan selalu up to date” sahut Nindy, rekan timku.
"Tapi, apakah dia mau dimintai keterangan?" tanyaku.
"Kita coba saja, yah minimal kita harus mengetahui seberapa dekat dia dengan Stefanny," jawab Andika
“Kebetulan dia besok tiba dari Singapura, jadi kita bisa jadikan dia sebagai salah satu narasumber terkait dengan raibnya Stefanny,” lanjut Andika.
“Boleh juga, kira-kira kapan pesawatnya take in?” tanya Sekar.
“Diperkirakan jam delapan malam di bandara ,” jawab cowok kelahiran Madiun.
“Oke, so besok kita stand by jam enam malam,” kata Sekar. Dan kami berlima pun mengakhiri rapat pagi ini.
###
Bersambung....
Langganan:
Postingan (Atom)



